Pengolahan Limbah Organik

LAPORAN PRAKTIKUM

LATIHAN I – V

 

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir

Mata Kuliah Pilihan (MKP)

Pengolahan Limbah Organik (PLO)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Kelompok VI

  1. 1.      Nur Aini                               (A420 090 002)
  2. 2.      Hidayah Novi S. L               (A420 090 048)
  3. 3.      Eneng Cahya                       (A420 090 089)
  4. 4.      Vutri Novita R                     (A420 090 112)
  5. 5.      Endang Sulastri                   (A420 090 217)

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2013

HALAMAN PENGESAHAN

 

Laporan praktikum ini telah diperiksa dan diserahkan sebagai syarat mengikuti Ujian Akhir Semester pada mata kuliah Pengolahan Limbah Organik (PLO) di jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta pada :

hari                  :

tanggal            :   januari 2013

 

 

 

 

Surakarta,   Januari 2013

                                                        Dosen Pengampu,

 

 

                                              DR. Edwi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Segala puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan karuniaNya kita dapat menyelesaikan laporan Praktik Pengolahan Limbah Organik pada semester lima ini dapat berjalan dengan lancar dan baik. Kami menyampaikan terima kasih kepada:

 

DR. Edwi selaku dosen mata kuliah Pengolahan Limbah Organik.

 

Kami menyadari bahwa dalam menyusun laporan ini masih banyak kekurangan, karena keterbatasan kami. Oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak akan kami terima dengan hati yang terbuka.

Wasalamu’alaikum Wr. Wb.

 

 

Surakarta,  Januari  2013

 

                                                                                                                                                                 Penulis                   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM

LATIHAN 1

MEMILAH DAN MENGURANGI TIMBUNAN SAMPAH

 

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir

Mata Kuliah Pilihan (MKP)

Pengolahan Limbah Organik (PLO)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Kelompok VI

 

  1. 1.      Nur Aini                               (A420 090 002)
  2. 2.      Hidayah Novi S. L               (A420 090 048)
  3. 3.      Eneng Cahya                       (A420 090 089)
  4. 4.      Vutri Novita R                     (A420 090 112)
  5. 5.      Endang Sulastri                   (A420 090 217)

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2013

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.      LATAR BELAKANG

Sampah merupakan suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam yang tidak mempunyai nilai ekonomi, bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi yang negatif, karena dalam penanganannya baik untuk membuang atau membersihkannya memerlukan biaya yang cukup besar. Sampah merupakan masalah yang dihadapi hampir seluruh Negara di dunia. Tidak hanya di Negara-negara berkembang, tetapi juga di Negara-negara maju, sampah selalu menjadi suatu masalah yang serius.

Sampah dan pengelolaannya kini menjadi permasalah yang kian mendesak di kota-kota di Indonesia, sebab apabila tidak ada penanganan yang baik akan mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan lingkungan yang merugikan atau tidak diharapkan sehingga dapat mencemari. Besarnya timbunan sampah yang tidak dapat ditangani tersebut akan menyebabkan berbagai permasalahan baik langsung maupun tidak langsung bagi penduduk apalagi daerah di sekitar tempat penumumpukan. Dampak langsung dari penanganan sampah yang kurang bijaksana diantaranya adalah berbagai penyakit menular maupun penyakit kulit serta gangguan pernafasan, sedangkan dampak tidak langsungnya diantaranya adalah bahaya banjir yang disebabkan oleh terhambatnya arus air di sungai karena terhalang timbunan sampah yang dibuang ke sungai. 

Penumpukan sampah yang terjadi di tempat pembuangan sementara (TPS), sampah pun akan semakin meningkat jumlah nya di tempat pembuangan akhir (TPA), dengan semakin bertumpuknya sampah di TPA-TPA, akan lebih berpeluang menimbulkan bencana seperti yang bencana longsong yang terjadi di TPA karena adanya akumulasi panas dalam tumpukan sampah yang pada akhirnya menimbulkan ledakan yang sangat hebat. Karena ledakan inilah maka sampah-sampah tersebut longsor dan menimbun puluhan rumah serta pemiliknya yang bertempat tinggal disekitar TPA tersebut. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah pencemaran tersebut diperlukan penanganan dan pengendalian terhadap sampah. Penanganan dan pengendalian akan menjadi semakin kompleks dan rumit dengan semakin banyaknya kompleksnya jenis maupun komposisi dari sampah sejalan dengan semakin majunya kebudayaan.

Berdasarkan uraian di atas, maka untuk mengurangi timbunan sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga, diadakanlah praktikum Mata Kuliah Pilihan (PLO) latihan 1 ini.

  1. B.       TINJAUAN PUSTAKA

Lubis (1980), menyatakan bahwa Sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Banyak sampah organik masih mungkin digunakan kembali/pendaurulangan (re-using), walaupun akhirnya akan tetap merupakan bahan/material yang tidak dapat digunakan kembali.

Sampah diartikan sebagai material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah adalah zat kimia, energi atau makhluk hidup yang tidak mempunyai nilai guna dan cenderung merusak. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tak bergerak (wikipedia).

Murtado (1987), menyatakan bahwa Berdasarkan sumbernya sampah terbagi menjadi sampah alam, sampah manusia, sampah konsumsi, sampah nuklirsampah industri, dan sampah pertambangan. Sedangkan berdasarkan sifatnya sampah dibagi menjadi dua yaitu:

  1. sampah organik atau sampah yang dapat diurai (degradable) contohnya daun-daunan, sayuran, sampah dapur dll.
  2. sampah anorganik atau sampah yang tidak terurai (undegradable) contohnya plastik, botol, kaleng dll.

 

Outerbridge (1991), menyatakan bahwa Menurut bentuknya sampah dapat dibagi sebagai berikut:

  1. Sampah Padat

Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair. Dapat berupa sampah rumah tangga: sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dan lain-lain.

  1. Sampah Cair

Sampah cair adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan kembali dan dibuang ke tempat pembuangan sampah

Prawirowardoyo (1987), menyatakan bahwa Berdasarkan karakteristiknya, sampah dibedakan menjadi:

1.  Garbage yaitu jenis sampah yang terdiri dari sisa-sisa potongan hewan atau sayuran dari hasil pengolahan yang sebagian besar terdiri dari zat-zat yang mudah membusuk, lembab, dan mengandung sejumlah air bebas.

2.  Rubbish terdiri dari sampah yang dapat terbakar atau yang tidak dapat terbakar yang berasal dari rumah-rumah, pusat-pusat perdagangan, kantor-kantor, tapi yang tidak termasuk garbage.

3.  Ashes (Abu) yaitu sisa-sisa pembakaran dari zat-zat yang mudah terbakar baik dirumah, dikantor, industri.

4.  “Street Sweeping” (Sampah Jalanan) berasal dari pembersihan jalan dan trotoar baik dengan tenaga manusia maupun dengan tenaga mesin yang terdiri dari kertas-kertas, daun-daunan.

5.  “Dead Animal” (Bangkai Binatang) yaitu bangkai-bangkai yang mati karena alam, penyakit atau kecelakaan.

Purwendro (2006), menyatakan bahwa Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam. Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif dengan metoda dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat.

Suryani (1997), menyatakan bahwa ada empat prinsip yang dapat digunakan dalam menangani maslah sampah ini. Ke empat prinsip tersebut lebih dikenal dengan nama 4R yang meliputi:

  1. Reduce (Mengurangi); sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.
  2. Reuse (Memakai kembali); sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.
  3. Recycle (Mendaur ulang); sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.
  4. Replace (Mengganti); teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekalai dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, misalnya, ganti kantong keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami.

Sedangkan menurut Slamet (1994), pola yang dapat dipakai dalam penanggulangan sampah meliputi Reduce, Reuse, dan Recycle, dan Composting (3RC) yang merupakan dasar dari penanganan sampah secara terpadu:

  1. Reduce (mengurangi sampah) atau disebut juga precycling merupakan langkah pertama untuk mencegah penimbunan sampah.
  2. Reuse (menggunakan kembali) berarti menghemat dan mengurangi sampah dengan cara menggunakan kembali barang-barang yang telah dipakai. Apa saja barang yang masih bisa digunakan, seperti kertas-kertas berwarna-warni dari majalah bekas dapat dimanfaatkan untuk bungkus kado yang menarik. Menggunakan kembali barang bekas adalah wujud cinta lingkungan, bukan berarti menghina.
  3. Recycle (mendaur ulang) juga sering disebut mendapatkan kembali sumberdaya (resource recovery), khususnya untuk sumberdaya alami. Mendaur ulang diartikan mengubah sampah menjadi produk baru, khususnya untuk barang-barang yang tidak dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama, misalnya kertas, alumunium, gelas dan plastik. Langkah utama dari mendaur ulang ialah memisahkar sampah yang sejenis dalam satu kelompok. 
  4. Composting merupakan proses pembusukan secara alami dari materi organik, misalnya daun, limbah pertanian (sisa panen), sisa makanan dan lain-lain. Pembusukan itu menghasilkan materi yang kaya unsur hara, antara lain nitrogen, fosfor dan kalium yang disebut kompos atau humus yang baik untuk pupuk tanaman.

Menurut Anwar (1989), Pengelolaan sampah yang baik akan memberikan pengaruh yang positif terhadap masyarakat maupun lingkungannya, seperti berikut:

  1. Sampah dapat dimanfaatkan untuk menimbun lahan semacam rawa-rawa dan dataran rendah.
  2. Sampah dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.
  3. Sampah dapat diberikan untuk makanan ternak setelah menjalani proses pengelolaan yang telah ditentukan lebih dahulu untuk mencegah pengaruh buruk sampah tersebut terhadap ternak.
  4. Pengelolaan sampah menyebabkan berkurangnya tempat untuk berkembang biak serangga dan binatang pengerat.

Pengelolaan sampah yang kurang baik dapat memberikan pengaruh negatif bagi kesehatan, lingkungan, maupun bagi kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat, seperti berikut.

  1. Pengelolaan sampah yang kurang baik akan menjadikan sampah sebagai tempat perkembangbiakan vektor penyakit, seperti lalat, tikus, serangga, jamur.
  2. Penyakit demam berdarah meningkatkan incidencenya disebabkan vektor Aedes Aegypty yang hidup berkembang biak di lingkungan, pengelolaan sampahnya kurang baik (banyak kaleng, ban bekas dan plastik dengan genangan air).
  3. Penyakit sesak nafas dan penyakit mata disebabkan bau sampah yang menyengat yang mengandung Amonia Hydrogen, Solfide dan Metylmercaptan.
  4. Penyakit saluran pencernaan (diare, kolera dan typus) disebabkan banyaknya lalat yang hidup berkembang biak di sekitar lingkungan tempat penumpukan sampah.
  5. Insidensi penyakit kulit meningkat karena penyebab penyakitnya hidup dan berkembang biak di tempat pembuangan dan pengumpulan sampah yang kurang baik. Penularan penyakit ini dapat melalui kontak langsung ataupun melalui udara.
  6. Penyakit kecacingan.
  7. Terjadi kecelakaan akibat pembuangan sampah secara sembarangan misalnya luka akibat benda tajam seperti kaca, besi, dan sebagainya.
  8. Gangguan psikomatis, misalnya insomnia, stress, dan lain-lain.


 

BAB II

ISI

 

  1. A.      TUJUAN
    1. Menghitung timbulan sampah dan mengidentifikasi komposisi sampah.
    2. Merencanakan fasilitas reduksi sampah yang sesuai dengan kondisi setempat.
    3. Melakukan perhitungan finansial hasil perencanaan.
    4. B.       ALAT DAN BAHAN
      1. Alat
        1. kantong plastik
        2. sarung tangan
        3. masker
        4. timbangan
        5. alat tulis
        6. Bahan
          1. limbah atau sampah rumah tangga dari masing-masing mahasiswa.
        7. C.      CARA KERJA
          1. Masing–masing anggota kelompok menyiapkan 3 kantong plastik dan masing-masing diberi label: sampah basah, sampah kering, dan B3.
          2. Meletakkan ketiga kantong plastik tersebut di tempat yang sering menghasilkan sampah dalam lingkungan rumah tangga.
          3. Mengumpulkan sampah atau limbah setiap 4 hari sekali.
          4. Memilah-milah sampah tersebut berdasarkan jenisnya kemudian menimbangnya.
          5. Mencatat berat pilahan sampah yang dihasilkan.
          6. Melanjutkan kegiatan tersebut sampai 8 kali.
          7. Mengidentifikasi sebab–sebab peningkatan timbunan sampah atau limbah, jika selama percobaan di atas belum bisa memperoleh atau mendapat perubahan aktifitas anggota keluarga
          8. Memberi tahu semua anggota keluarga baik secara lisan, peringatan, petunjuk dan atau pemberitahuan secara tertulis
          9. Pada pertemuan pekan berikutnya setiap kelompok mendiskusikan dengan sesama anggota kelompok kemudian diteruskan diskusi kelas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. D.      HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil tabulasi data sampah

  1. Nama : Nur Aini

No

Jenis limbah

Berat (kg) limbah per 4 hari

Rp/ kg

hasil

1

2

3

4

5

6

7

8

1

Kertas/ kardus/ kartoon

0.5

0.3

0.2

0.2

0.2

0.1

0.1

0.1

2000

3400

2

Plastik (kantong, botol dll)

0.5

0.5

0.7

0.2

0.1

0.2

0.1

0.3

4000

10400

3

Logam (besi, seng

-

-

-

-

-

-

-

-

5000

-

4

Kaca (pacahan, bollam lampu, gelas dll)

-

-

-

-

-

-

-

-

500

-

5

Kayu (triplek, pensil dll)

-

-

-

-

-

-

-

-

500

-

6

Sampah organik basah

1.0

-

1.0

-

1.0

-

0.5

-

500

1750

Jumlah

15550

 

            2. Nama : Eneng Cahya

No

Jenis limbah

Berat (kg) limbah per 4 hari

Rp/ kg

hasil

1

2

3

4

5

6

7

8

1

Kertas/ kardus/ kartoon

1

3

2

2

2

1

1

1

2000

26000

2

Plastik (kantong, botol dll)

5

2

5

2

1

2

4

3

4000

96000

3

Logam (besi, seng

-

-

-

-

-

-

-

-

5000

-

4

Kaca (pacahan, bollam lampu, gelas dll)

-

-

-

-

-

-

-

-

500

-

5

Kayu (triplek, pensil dll)

-

-

-

-

-

-

-

-

500

-

6

Sampah organik basah

1

2

1

1

3

1

3

1

500

7000

Jumlah

129000

 

 

3. Hidayah

No

Jenis limbah

Berat (kg) limbah per 4 hari

Rp/ kg

hasil

1

2

3

4

5

6

7

8

1

Kertas/ kardus/ kartoon

4

3

1

2

3

2

1

1

2000

32000

2

Plastik (kantong, botol dll)

6

2

2

2

3

2

1

3

4000

84000

3

Logam (besi, seng

-

-

-

-

-

-

-

-

5000

-

4

Kaca (pacahan, bollam lampu, gelas dll)

-

-

-

-

-

-

-

-

500

-

5

Kayu (triplek, pensil dll)

-

-

-

-

-

-

-

-

500

-

6

Sampah organik basah

2

2

1

3

2

0

0

3

500

6500

Jumlah

122500

 

 

 

  1. Nama : Vutri Novita R

No

Jenis limbah

Berat (kg) limbah per 4 hari

Rp/ kg

hasil

1

2

3

4

5

6

7

8

1

Kertas/ kardus/ kartoon

1

1

1

2

1

2

1

1

2000

20000

2

Plastik (kantong, botol dll)

1

2

2

3

3

2

2

3

4000

72000

3

Logam (besi, seng

-

-

-

-

-

-

-

-

5000

-

4

Kaca (pacahan, bollam lampu, gelas dll)

-

-

-

-

-

-

-

-

500

-

5

Kayu (triplek, pensil dll)

-

-

-

-

-

-

-

-

500

-

6

Sampah organik basah

1

0

1

1

2

1

0

3

500

4500

Jumlah

96500

 

 

 

  1. Nama : Endang Sulastri

No

Jenis limbah

Berat (kg) limbah per 4 hari

Rp/ kg

hasil

1

2

3

4

5

6

7

8

1

Kertas/ kardus/ kartoon

1

2

2

2

1

2

1

1

2000

24000

2

Plastik (kantong, botol dll)

2

2

1

2

1

2

1

1

4000

48000

3

Logam (besi, seng

-

-

-

-

-

-

-

-

5000

-

4

Kaca (pacahan, bollam lampu, gelas dll)

-

-

-

-

-

-

-

-

500

-

5

Kayu (triplek, pensil dll)

-

-

-

-

-

-

-

-

500

-

6

Sampah organik basah

3

2

3

3

2

2

4

3

500

11000

Hasil

83000

 

 

 

Pembahasan

Sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Banyak sampah organik masih mungkin digunakan kembali/pendaurulangan (re-using), walaupun akhirnya akan tetap merupakan bahan/ material yang tidak dapat digunakan kembali.

Berdasarkan sifatnya sampah dibagi menjadi dua yaitu: 1. sampah organik atau sampah yang dapat diurai (degradable) contohnya daun-daunan, sayuran, sampah dapur dll, dan 2. sampah anorganik atau sampah yang tidak terurai (undegradable) contohnya plastik, botol, kaleng dll. Sedangkan berdasarkan bentuknya, sampah dapat dibagi menjadi: 1. Sampah padat: adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair. Dapat berupa sampah rumah tangga: sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dan lain-lain. 2. Sampah cair: adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan kembali dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.

Ada empat prinsip yang dapat digunakan dalam menangani maslah sampah ini. Ke empat prinsip tersebut lebih dikenal dengan nama 4R yang meliputi: 1: Reduce (Mengurangi); sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan, 2. Reuse (Memakai kembali); sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah, 3. Recycle (Mendaur ulang); sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain, 4. Replace (Mengganti); teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekalai dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, misalnya, ganti kantong keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami

Dari hasil pengumpulan sampah yang dilakukan oleh kelompok kami, maka diperoleh hasil sebagai berikut. Sampah-sampah yang dikumpulkan tersebut dipilah berdasarkan jenisnya dengan harga untuk jenis kertas 2000/kg, jenis plastik 4000/kg, jenis logam 5000/kg, kaca 500/kg, kayu 500/kg, dan limbah organik basah 500/kg.

Dari pengumpulan sampah yang dilakukan oleh Wiro Jumadi diperoleh hasil untuk berat jenis kertas 1,7 kg, plastik 2,6 kg, logam 0 kg, kaca 0 kg, kayu 0 kg, dan limbah organik basah 3,5 kg. Hasil penjualan total dari sampah tersebut adalah Rp. 15550.

Dari pengumpulan sampah yang dilakukan oleh Rita Arum diperoleh hasil untuk berat jenis kertas 13 kg, plastik 24 kg, logam 0 kg, kaca 0 kg, kayu 0 kg, dan limbah organik basah 14 kg. Hasil penjualan total dari sampah tersebut adalah Rp. 129000.

Dari pengumpulan sampah yang dilakukan oleh Indah Puspaningrum diperoleh hasil untuk berat jenis kertas 16 kg, plastik 21 kg, logam 0 kg, kaca 0 kg, kayu 0 kg, dan limbah organik basah 13 kg. Hasil penjualan total dari sampah tersebut adalah Rp. 122500.

Dari pengumpulan sampah yang dilakukan oleh Nurul Hasanah diperoleh hasil untuk berat jenis kertas 10 kg, plastik 18 kg, logam 0 kg, kaca 0 kg, kayu 0 kg, dan limbah organik basah 9 kg. Hasil penjualan total dari sampah tersebut adalah 96500.

Dari pengumpulan sampah yang dilakukan oleh Siti Wulandari diperoleh hasil untuk berat jenis kertas 12 kg, plastik 12 kg, logam 0 kg, kaca 0 kg, kayu 0 kg, dan limbah organik basah 22 kg. Hasil penjualan total dari sampah tersebut adalah Rp. 83000.

Dari hasil pengumpulan sampah tersebut menunjukkan bahwa sampah memiliki nilai ekonomi yang cukup besar untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Selai itu, Lingkungan menjadi bersih, teduh dan asri, masyarakat terjaga kesehatannya karena pengelolaan sampah merupakan bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat.

  1. E.       DISKUSI

Diskusi

  1. Apa yang menyebabkan sulitnya mengurangi produksi limbah di kalangan rumah tangga?

Jawaban :

Sulitnya mengurangi produksi limbah rumah tangga karena kurangnya kesadaran anggota keluarga dalam hal limbah. Mereka kurang peduli akan dampak negatif apa saja yang ditimbulkan apabila produksi limbah terus bertambah tanpa adanya pengolahan. Lingkungan rumah tangga akan tercemar dan muncul penyakit yang membahayakan jiwa keluarga. Kurangnya pengetahuan akan pengolahan limbah juga merupakan penyebab timbunan sampah di kalangan rumah tangga.

  1. Apa saja dampak positif yang timbul dengan adanya pengolahan limbah di kalangan rumah tangga?

Jawaban:

Dampak postif yang ditimbulkan antara lain, lingkungan sekitar menjadi asri dan tidak berbau sampah, kesehatan keluarga terjamin karena tidak ada bibit penyakit dari timbunan sampah, menghemat tempat pembuangan akhir yang ada di sekitar tempat tinggal dan mengurangi pencemaran yang mungkin terjadi di kalangan rumah tangga.

  1. Bagaimana cara mengolah limbah basah rumah tangga, mengingat bahwa jenis limbah ini yang paling banyak dihasilkan?

Jawaban:

Untuk limbah berupa kulit buah, sebagai contoh limbah kulit pisang, dapat dijadikan makanan kembali dengan cara dibuat jus kulit pisang. Untuk kulit buah lain dapat diolah menjadi inokulum bahan pembuatan bioetanol. Selain itu limbah basah lain berua sisa nasi dan makanan lain juga dapat dijadikan inokulum tersebut.

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.      KESIMPULAN
    1. Sampah diartikan sebagai material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses.
    2. Berdasarkan sifatnya sampah dibedakan menjadi sampah organik dan anorganik.
    3. Berdasarkan bentuknya sampah dibedakan menjadi sampah padat dan sampah cair.
    4. Ada 4 prinsip dalam pengelolaan sampah: reduce, reuse, recycle, replacing.
    5. Dari hasil penjualan sampah diperoleh hasil:
      1. Nur Aini                           : Rp. 15550
      2. Eneng Cahya                    : Rp. 129000
      3. Hidayah                           : Rp. 122500
      4. Vutri Novita R                 : Rp. 96500
      5. Endang Sulastri                : Rp. 83000
      6. B.       SARAN
        1. Praktikum sebaiknya dilaksanakan tepat waktu.
        2. Setiap praktikum disediakan buku panduan praktikum.
        3. Untuk alat dan bahan sebaiknya disediakan oleh pengampu.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anwar, Asrul. 1989. Pengantar Ilmu kesehatan Lingkungan. Jakarta: Mutiara

Anonim. 2012. Sampah (www.wikipedia.sampah.com). diakses pada senin 7 januari 2013.

Lubis, Pandapotan. 1980. Pengelolaan Sampah. Jakarta: Mutiara.

Murtadho, Djuli dan Said Gumbira. 1987. Penanganan dan Pemanfaatan Limbah Padat. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa.

Outerbridge, Thomas, dkk. 1991. Limbah Padat di Indonesia: Masalah atau Sumber Daya. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Prawirowardoyo, S., Afandie Rosmarkam, Dja’far Shiddieq, M. Shodiq H dan Mansur Ma’shum. 1987. Prosedur analisis kimia tanah. Yogyakarta: UGM Press.

Purwendro, Setyo & Nurhidayat. 2006. Mengolah Sampah untuk Pupuk & Pestisida Organik. Jakarta: Penebar Swadaya.

Slamet, JS. 1994. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Suryani, M. Ahmad R., dan Mudi R. 1997. Lingkungan Sumber Daya Alam dan Kependudukan Dalam Pembangunan. Jakata: Universitas Indonesia Press.

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM

LATIHAN II-III

MEMILAH DAN MENGGUNAKAN/MEMANFAATKAN KEMBALI TIMBUNAN SAMPAH

 

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir

Mata Kuliah Pilihan (MKP)

Pengolahan Limbah Organik (PLO)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Kelompok VI

  1. 1.      Nur Aini                               (A420 090 002)
  2. 2.      Hidayah Novi S. L               (A420 090 048)
  3. 3.      Eneng Cahya                       (A420 090 089)
  4. 4.      Vutri Novita R                     (A420 090 112)
  5. 5.      Endang Sulastri                   (A420 090 217)

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2013

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    LATAR BELAKANG

Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tak bergerak (wikipedia). Sampah dapat berada pada setiap fase / materi, yaitu fase padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam fase cair dan gas, terutama dalam fase gas sampah ini disebut sebagai emisi berkait dengan polusi. Bila sampah masuk ke dalam lingkungan (ke air, ke udara dan ke tanah) maka kualitas lingkungan akan menurun. Peristiwa masuknya sampah ke lingkungan inilah yang dikenal sebagai peristiwa pencemaran lingkungan.

Ada berbagai macam sampah yang antara lainberupa limbah padat maupun limbah cair. Langkah awal adalah mengenali berbagai jenis sampah di lingkungan kita. Kemudian mengklasifikasinya, mana yang masih bisa dipakai mana yang sudah habis pakai dan mana yang masih bisa diolah/didaur. Secara sederhana sampah dalam rumah dapat kita bagi menjadi 3 kategori, yakni sampah beracun,seperti batere bekas, bola lampu bekas dan barang-barang yang mengandung zat kimia, sampah padat yang tidak dapat diurai, seperti plastik, botol, kaleng, dsb, sampah organik seperti sisa makanan, sisa buah-buahan, sayuran dsb.

Gaya hidup ramah lingkungan dikenal pula dengan semboyan 3R : Reduce, Reuse & Recycle. Artinya mengurangi tingkat kebutuhan akan sampah, menggunakan kembali sampah-sampahyang telah ada dan mendaur ulang sampah-sampah yang telah terpakai. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi volume sampah yang lebih baik dari cara pembakaran. Empat ( 4R ) prinsip yang dapat digunakan dalam menangani masalah sampah : 

  • Reduce (Mengurangi); upayakan meminimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. 
  • Re-use (Memakai kembali); pilihlah barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang yang disposable (sekali pakai, buang). 
  • Recycle (Mendaur ulang); barang yang sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang sehingga bermanfaat serta memiliki nilai tambah. Perlu diingat tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis.  
  • Replace (Mengganti); Ganti barang barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Gunakn barang-barang yang lebih ramah lingkungan, misalnya, ganti kantong keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami.

Daur ulang adalah proses tuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru. Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk / material bekas pakai, dan komponen utama dalam manajemen sampah modern dan bagian ketiga adalam proses hierarki sampah 3R (Reuse, Reduce, and Recycle). Dengan menerapkan beberapa prinsip diatas, bisa dipastikan volume sampah yang ada dipermukaan bumi dapat dikendalikan. Lingkungan akan lebih indah, bersih dan sehat. Hal ini sebagai wujud partisipasi dan kepedulian terhadap lingkungan, sehingga akan memperpanjang usia bumi.

 

Salah satu sampah yang dapat didaur ulang adalah plastik. Plastik disini bisa didapat dari plastik yang beraneka ragam mulai dari plasti bekas wadah sabun detergent, pembungkus makanan ringan, plastik kantong dsb. Pada prinsipnya seluruh plastik dapat didaur ulang, kecuali plastik tersebut digunakan kembali sebagai pembungkus makanan, karena bahan berbahaya dan beracun (B3). Limbah plastik seperti ini sebaiknya ditinggalkan dan jangan digunakan karena akan membahayakan si pembuat kertas itu sendiri dan lingkungan sekitarnya. Selain plastik, material yang bisa didaur ulang terdiri dari sampah kaca, kertas, logam, tekstil, dan barang elektronik. Pada proses pembuatan kompos yang umumnya menggunakan sampah biomassa yang bisa didegradasi oleh alam, meskipun mirip tidak dikategorikan sebagai proses daur ulang. Daur ulang lebih difokuskan kepada sampah yang tidak bisa didegradasi oleh alam secara alami demi pengurangan kerusakan lahan. Secara garis besar, daur ulang adalah proses pengumpulan sampah, penyortiran, pembersihan, dan pemrosesan material baru untuk proses produksi.

Pada praktikum ke-2 ini kami mendaur ulang plastik yang sudah tidak terpakai/ bekas seperti plastik wadah detergent yang bisa dipakai lagi atau menjadi kerajinan tangan yang ramah lingkungan yaitu dibuat sebagai dompet, dengan begitu diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah-sampah yang menumpuk.

 

  1. B.     TINJAUAN PUSTAKA

Sampah adalah material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan dan konsekuensi dari adanya aktivitas manusia. Di dalam proses-proses alam tidak dikenal adanya sampah, yang ada hanyalah produk-produk tidak bergerak. Sampah bagi setiap orang memang memiliki pengertian relative berbeda dan subjektif. Sampah bagi kalangan tertentu bisa saja menjadi harta berharga. Hal ini cukup wajar mengingat setiap orang memiliki standar hidup dan kebutuhan tidak sama (Sudradjat, 2006).

Limbah B3 ialah setiap bahan sisa atau limbah suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan beracun karena sifat (toxicity, flammability, reactivity, dan corrosivity) serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak dan mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan manusia. Limbah B3 dikarakterisasikan berdasarkan beberapa parameter yaitu total solids residue (TSR), kandungan fixed residue (FR), kandungan volatile solids (VR), kadar air (sludge moisture content), volume padatan, serta karakter atau sifat B3 (toksisitas, sifat korosif, sifat mudah terbakar, sifat mudah meledak, beracun, serta sifat kimia dan kandungan senyawa kimia) (Zanoli,1999).

Limbah organik maupun limbah anorganik dapat didaur ulang. Daur ulang merupakan upaya untuk mengolah barang atau benda yang sudah tidak dipakai agar dapat dipakai kembali. Limbah organik dapat dimanfaatkan baik secara langsung (contohnya untuk makanan ternak) maupun secara tidak langsung melalui proses daur ulang (contohnya pengomposan dan biogas). Contoh limbah organik yang dapat kita daur ulang yaitu sisa-sisa dedaunan dan kayu serut. Sisa-sisa dedaunan dapat kita proses menjadi pupuk kompos yang sangat bagus. Tetapi, untuk hasil yang maksimal diperlukan usaha yang maksimal pula. Jika kita dapat memprosesnya dengan baik, maka sisa dedaunan itu dapat kita gunakan sebagai pupuk organik yang ramah lingkungan dan kualitas bagus. Sedangkan, limbah anorganik dapat kita proses menjadi sebuah benda yang memiliki nilai seni atau nilai guna. Beberapa limbah anorganik yang dapat dimanfaatkan melalui proses daur ulang, misalnya plastik dan gelas (Azwar, 1990)

Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru. Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk / material bekas pakai, dan komponen utama dalam manajemen sampah modern dan bagian ketiga adalam proses hierarki sampah 3R ( Reuse, Reduce, dan Recycle). Material yang bisa didaur ulang terdiri dari sampah kaca, plastik, kertas, logam, tekstil, dan barang elektronik. Meskipun mirip, proses pembuatan kompos yang umumnya menggunakan sampah biomassa yang bisa didegradasi oleh alam, tidak dikategorikan sebagai proses daur ulang. Daur ulang lebih difokuskan kepada sampah yang tidak bisa didegradasi oleh alam secara alami demi pengurangan kerusakan lahan. Secara garis besar, daur ulang adalah proses pengumpulan sampah, penyortiran, pembersihan, dan pemrosesan material baru untuk proses produksi (Anonim, 2007).

Kota Surakarta hanya memiliki satu TPA yaitu TPA Putri Cempo, Mojosongo. TPA ini sudah beroperasi mulai tahun 1987 menggantikan TPA Semanggi. TPA Putri Cempo merupakan TPA terbesar kedua di Jawa Tengah setelah TPA Jatibarang di Kota Semarang. TPA ini memiliki total luas wilayah 17 Ha, dengan pembagian wilayah 14 Ha sebagai tempat pembuangan sampah secara open dumping, 1 Ha sebagai tempat pengolahan limbah tinja PDAM Kota Surakarta, 2 Ha berupa infrakstruktur jalan, gudang dan kantor. TPA ini memiliki 21 pegawai yang 15 diantaranya sudah diangkat menjadi PNS. Selain itu, TPA ini juga difasilitasi dengan 24 truk dan 4 buldozer yang digunakan untuk mengelola sampah setiap harinya, dengan jam kerja mulai pukul 08.00-15.00. Pengelolaan persampahan yang ada di TPA Putri Cempo ini dirasa masih sangat rendah, hal tersebut dikarenakan TPA ini masih menggunakan metode open dumping (pembuangan terbuka) untuk melayani sampah dari seluruh wilayah Kota Surakarta. Menurut Muhammad Pramojo, M.Si selaku Kepala Pengelola TPA Putri Cempo menyatakan bahwa TPA Putri Cempo sudah overload sehingga dalam beberapa tahun ke depan perlu untuk mencari lahan baru untuk menampung sampah dari masyarakat kota Surakarta yang terus meningkat dari tahun ke tahunnya. Bahkan, menurut UU No. 26 Tahun 2008, Pemerintah Kota Surakarta hanya diberi batas toleransi waktu hingga lima tahun untuk menggunakan sistem open dumping. Selanjutnya harus menggunakan sistem pembuangan yang lebih baik yaitu Sanitary Landfill (Hardyanti, N., Huboyo, HS., 2009).

Kehadiran UU pengelolaan sampah menurut Ilyas Asaad (Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup bidang penaatan lingkungan) dilatarbelakangi oleh beberapa pemikiran : pertama, mengutamakan prinsip-prinsip pembangunan ber-kelanjutan ke seluruh bidang pembangunan; kedua, meningkatkan koordinasi pengelolaan lingkungan hidup di tingkat nasional dan daerah; ketiga, mening-katkan upaya harmonisasi pengembangan hukum lingkungan dalam mendukung prinsip pembangungan berkelanjutan; keempat, meningkatkan upaya pengen-dalian dampak lingkungan akibat kegiatan pembangunan; kelima, meningkatkan upaya penataan dan penegakan hukum secara konsisten kepada pencemar dan perusak lingkungan;keenam, meningkatkan kapasitas lembaga dan SDM penge-lola lingkungan hidup baik di tingkat nasional maupun daerah; dan ketujuh, membangun kesadaran masyarakat agar peduli pada isu lingkungan hidup dan berperan aktif sebagai kontrol-sosial dalam memantau kualitas lingkungan hidup (Putra, M.B., 2008).

Daur ulang adalah proses tuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampahyang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusikerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru. Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk / material bekas pakai, dan komponen utama dalam manajemen sampah modern dan bagian ketiga adalam proses hierarki sampah 3R (ReuseReduce, and Recycle) (Urip Santoso,2009).

Plastik adalah polimer; rantai panjang atom mengikat satu sama lain. Rantai ini membentuk banyak unit molekul berulang, atau “monomer”. Plastik yang umum terdiri dari polimer karbon saja atau dengan oksigen, nitrogen, chlorine atau belerang di tulang belakang. (beberapa minat komersial juga berdasar silikon). Tulang-belakang adalah bagian dari rantai di jalur utama yang menghubungkan unit monomer menjadi kesatuan. Untuk mengeset properti plastik grup molekuler berlainan “bergantung” dari tulang-belakang (biasanya “digantung” sebagai bagian dari monomer sebelum menyambungkan monomer bersama untuk membentuk rantai polimer). Pengesetan ini oleh grup “pendant” telah membuat plastik menjadi bagian tak terpisahkan di kehidupan abad 21 dengan memperbaiki properti dari polimer tersebut. Pengembangan plastik berasal dari penggunaan material alami (seperti: permen karet, “shellac”) sampai ke material alami yang dimodifikasi secara kimia (seperti: karet alami, “nitrocellulose”) dan akhirnya ke molekul buatan-manusia (seperti: epoxy, polyvinyl chloride, polyethylene) (Anonim, 2003).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

  1. A.    TUJUAN
  2. B.     ALAT DAN BAHAN
    1. 1.      Alat
      1. Gunting                                   2 buah            
      2. Mesin jahit                              lengkap

 

  1. 2.      Bahan
    1. Plastik wadah detergent         2 buah
    2. Resleting                                 1 buah
    3. Benang jahit                            secukupnya

 

  1. C.    CARA KERJA
    1. Membersihkan/mencuci plastik bekas wadah detergent dengan bersih.
    2. Setelah bersih dan kering menggunting plastik sesuai pola.
    3. Menjahit plastik dan resleting sesuai pola.

 

  1. D.    HASIL DAN PEMBAHASAN
    1. 1.      Hasil

 

Dompet hasil daur ulang

 

 

  1. 2.      Pembahasan

Plastik merupakan bahan yang banyak digunakan dan diperlukan manusia. Di dalam kehidupan sehari-hari banyak digunakan plastik untuk berbagai kegiatan. Plastik mempunyai manfaat yang sangat banyak diantaranya yang banyak kita gunakan setiap hari adalah sebagai wadah atau pembungkus. Plastik yang dianggap tidak dipakai lagi biasanya akan dibuang atau dimusnahkan begitu saja, bahkan ada yang langsung membakarnya sehingga terjadi pencemaran udara. Pengolahan limbah plastik salah satu cara untuk menanggulangi masalah tersebut. Plastik yang dianggap tidak dapat digunakan kembali harus diolah menjadi barang daur ulang yang bermanfaat. Sebenarnya plastik adalah jenis limbah yang tidak dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau anaerob. Hal ini dapat diatasi, sehingga didalam praktikum dilakukan salah satu cara pengolahan limbah plastik menjadi plastik daur ulang yang dapat digunakan kembali bahkan bila dikembangksan bisa memiliki nilai ekonomis.

Cara mengolah limbah plastik dapat dilakukan dengan cara mengumpulkan plastik bekas wadah misal: plastik detergent yang sudah tidak terpakai lagi.plastik dikumpulkan dan dibersihkan hingga bersih dan dirapikan dengan tujuan agar terlihat baru/baik. Plastik ini tadi bisa dibuat berbagai barang atupun kerajinan salah satunya adalah dibuat dompet.

Plastik yang telah disiapkan, kemudian dibuat pola-pola yang telah diinginkan, kemudian pola ini tadi dijahit dengan mesin jahit dan diberi resleting sedemikian rupa hingga dompetpun jadi.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    KESIMPULAN
    1. Sampah adalah material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses.
    2. Pengolahan limbah plastik menjadi plastik daur ulang yang dapat digunakan kembali bahkan bila dikembangksan bisa memiliki nilai ekonomis.
    3. Plastik adalah polimer; rantai panjang atom mengikat satu sama lain. Rantai ini membentuk banyak unit molekul berulang, atau “monomer”.
    4. Sampah plastik yang sudah tidak terpakai misal: bungkus ditergen dapat didaur ulang atau dimanfaatkan kembali menjadi suatau produk/kerajinan yang memiliki nilai ekonomis.

 

 

  1. B.     SARAN

Diharapkan kegiatan praktikum tentang daur ulang ini ada tindak lanjut yang dapat dilakukan, misalnya mahasiswa dapat mengembangkannya kembali di rumah masing-masing atau pun lingkungan sekitarnya, dan diharapkan ada sosialisasi tentang pembuatan daur ulang sampah terhadap masyarakat luas agar mayarakat tersebut memiliki keinginan untuk mengembangkan proses daur ulang sampah di lingkungannya.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Afifuddin, 2003.Sampah dan Pengolahannya. Materi diktat TOT PKLH, Direktorat Dikdasmen.Jakarta.

 

Anonym. 2003. http://id.wikipedia.org/wiki/Plastik. diakses tanggal 11 januari 2013 pukul 10.45 wib

 

Azwar, Hadi.  1990.  Fisiologi Stres Lingkungan.  PAU-IPB: Bogor.

 

Hardyanti, Nurandani dan Haryono Setiyo Huboyo. 2009. Evaluasi Instalasi Pengolahan Lindi Tempat Pembuangan Akhir Putri Cempo Kota Surakarta. Jurnal Presipitasi 6 (1) : 52-56.

 

Putra, M.B. 2008. Prinsip Partisipasi Dalam UU. http://muslimindaenglalo.blogspot.com/2009/03/prinsip-partisipasi-dalam-uu.html. (17 Maret 2010).

 

Sudradjat, 2006, Mengelola Sampah Kota, Jakarta: Penebar Swadaya.

 

Zanoli, R. 1999. The organic boom in Italy. Eco. Farm. 22: 22-24.

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM

LATIHAN IV

BIOGAS

 

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir

Mata Kuliah Pilihan (MKP)

Pengolahan Limbah Organik (PLO)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Kelompok VI

 

  1. 1.      Nur Aini                               (A420 090 002)
  2. 2.      Hidayah Novi S. L               (A420 090 048)
  3. 3.      Eneng Cahya                       (A420 090 089)
  4. 4.      Vutri Novita R                     (A420 090 112)
  5. 5.      Endang Sulastri                   (A420 090 217)

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2013

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Zaman modern seperti sekarang ini keperluan akan kebutuhan semakin meningkat, tidak terketinggalan kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM), yang dari tahun ketahun semakin meningkat sehingga menyebabkan harga minyak melambung. Pemerintah sendiri berencana menaikkan lagi harga minyak untuk mengurangi sudsidi yang harus ditanggung oleh APBN. Untuk mengatasi hal tersebu sekarang ini perlu adanya sumber energi alternatif telah banyak ditemukan sebagai pengganti bahan bakar minyak, salah satunya adalah Biogas. Biogas merupakan renewable energy yang dapat dijadikan bahan bakar alternatif untuk menggantikan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti minyak tanah dan gas alam. Biogas terdiri atas gas campuran metana (CH4), karbondioksida (CO2) dan gas lainnya yang didapat dari hasil penguraian material organik seperti kotoran hewan, kotoran manusia, tumbuhan oleh bakteri pengurai metanogen pada sebuah biodigester.

Di Indonesia, khususnya masyarakat pedesaan banyak yang memiliki hewan ternak. Misalnya : Ternak sapi, kerbau, kuda, ayam petelur, kambing banyak dipelihara oleh masyarakat pedesaan sebagai usaha sampingan selain bercocok tanam. Limbah ternak yang berupa limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku dan lain lainnya. Apabila limbah tersebut tidak diolah dengan benar maka peternakan juga menjadi penyebab timbulnya pencemaran air, bau tak sedap, mengganggu pemandangan dan bahkan bisa sebagai sumber penyakit. Untuk mencegah terjadinya hal buruk yang ditimbulkan dari limbah ternak tersebut maka limbah tersebut harus diolah dengan benar. Sebelumnya pemanfaatan Limbah ternak selama ini belum optimal, karena limbah kotoran ternak itu dijadikan pupuk organik. Sekarang ini dengan adanya teknologi biogas seluruh permasalahan lingkungan akibat pencemaran dapat dikurangi. Limbah kotoran ternak dapat diproses untuk menghasilkan biogas dimana gas itu dapat digunakan untuk memasak menggantikan minyak tanah ataupun gas LPG.

Dalam praktikum pengolahan limbah organik latihan IV kali ini, kami melakukan percobaan pembuatan biogas dari limbah berupa dua jenis kotoran hewan yaitu kotoran sapi dan kotoran ayam sebagai inokulum dan sisa makanan sebagai substratnya. Pembuatan biogas yang kami lakukan dengan cara pembuatan yang sederhana yaitu dengan menggunakan botol bekas sebagai tempat pembuatan. Praktikum kali ini kami lakukan agar kami mengetahui cara pembuatan biogas dengan menggunakan kotoran ayam.

  1. B.     Tinjauan Pustaka

Energi biogas sangat potensial untuk dikembangkan kerena produksi biogas peternakan ditunjang oleh kondisi yang kondusif dari perkembangkan dunia peternakan sapi di Indonesia saat ini. Disamping itu, kenaikan tarif listrik, kenaikan harga LPG (Liquefied Petroleum Gas), premium, minyak tanah, minyak solar, minyak diesel dan minyak bakar telah mendorong pengembangan sumber energi elternatif yang murah, berkelanjutan dan ramah lingkungan (Nurhasanah dkk., 2006).

Proses pencernaan anaerobik merupakan dasar dari reaktor biogas yaitu proses pemecahan bahanorganik oleh aktivitas bakteri metanogenik dan bakteri asidogenik pada kondisi tanpa udara, bakteri ini secara alami terdapat dalam limbah yang mengandung bahan organik, seperti kotoran binatang, manusia, dan sampah organik rumah tangga. Gas metan adalah gas yang mengandung satu atom C dan 4 atom H yang memiliki sifat mudah terbakar. Gas metan yang dihasilkan kemudian dapat dibakar sehingga dihasilkan energi panas. Bahan organik yang bisa digunakan sebagai bahan baku industri ini adalah sampah organik, limbah yang sebagian besar terdiri dari kotoran dan potongan-potongan kecil sisa-sisa tanaman, seperti jerami dan sebagainya serta air yang cukup banyak( Haryati , 2006).

                 Terdapat sepuluh faktor yang dapat mempengaruhi optimasi pemanfaatan kotoran ternak sapi menjadi biogas yaitu:

  1. Ketersediaan ternak : Jenis jumlah dan sebaran ternak di suatu daerah dapat menjadi potensi bagi pengembangan biogas. Hal ini karena biogas dijalankan dengan memanfaatkan kotoran ternak.
    1. Kepemilikan Ternak : Jumlah ternak yang dimiliki oleh peternak menjadi dasar pemilihan jenis dan kapasitas biogas yang dapat digunakan.
    2. Pola Pemeliharaan Ternak : Kotoran ternak lebih mudah didapatkan bila ternak dipelihara dengan cara dikandangkan dibandingkan dengan cara digembalakan.
    3. Ketersediaan Lahan : Untuk membangun biogas diperlukan lahan disekitar kandang yang luasannya bergantung pada jenis dan kapasitas biogas.
    4. Tenaga Kerja : Untuk mengoperasikan biogas diperlukan tenaga kerja yang berasal dari peternak/pengelola itu sendiri.
    5. Manajemen Limbah/Kotoran : Terkait dengan penentuan komposisi padat cair kotoran ternak yang sesuai untuk menghasilkan biogas, frekuensi pemasukan kotoran, dan pengangkutan atau pengaliran kotoran ternak ke dalam raktor.
    6. Kebutuhan Energi : Kebutuhan peternak akan energi dari sumber biogas harus menjadi salah satu faktor yang utama.
    7. Jarak (kandang-reaktor biogas-rumah) : Pemanfaatan energi ini dapat optimal bila jarak antara kandang ternak, reaktor biogas dan rumah peternak tidak telampau jauh dan masih memungkinkan dijangkau instalasi penyaluran biogas.
    8. Pengelolaan Hasil Samping Biogas : Pengelolaan hasil samping biogas ditujukan untuk memanfaatkannya menjadi pupuk cair atau pupuk padat (kompos).
    9. Sarana Pendukung : Sarana pendukung dalam pemanfaatan biogas terdiri dari saluran air/drainase, air dan peralatan kerja. (Sulaeman, 2008).

Pemanfaatan biogas sebagai sumber energi pada industri kecil berbasis pengolahan hasil pertanian dapat memberikan multiple effect dan dapat menjadi penggerak dinamika pembangunan pedesaan. Selain itu, dapat juga dipergunakan untuk meningkatkan nilai tambah dengan cara pemberian green labelling pada produk-produk olahan yang di proses dengan menggunaan green energy (Widodo dkk., 2006).

Biogas juga sebagai salah satu jenis bioenergi yang didefinisikan sebagai gas yang dilepaskan jika bahan-bahan organik seperti kotoran ternak, kotoran manusia, jerami, sekam dan daun-daun hasil sortiran sayur difermentasi atau mengalami proses metanisasi. Gas metan ini sudah lama digunakan oleh warga Mesir, China, dan Roma kuno untuk dibakar dan digunakan sebagai penghasil panas. Sedangkan proses fermentasi lebih lanjut untuk menghasilkan gas metan ini pertama kali ditemukan oleh Alessandro Volta (1776). Hasil identifikasi gas yang dapat terbakar ini dilakukan oleh Willam Henry pada tahun 1806. Dan Becham (1868) murid Louis Pasteur dan Tappeiner (1882) adalah orang pertama yang memperlihatkan asal mikrobiologis dari pembentukan gas metan.Gas ini berasal dari berbagai macam limbah organik seperti sampah biomassa, kotoran manusia, kotoran hewan dapat dimanfaatkan menjadi energi melalui proses anaerobik digestion (Pambudi, 2008).

Biogas adalah campuran beberapa gas, tergolong bahan bakar gas yang merupakan hasil fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerob, dan gas yang dominan adalah gas metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2). Gasbio memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu kisaran 4800-6700 kkal/m3, untuk gas metan murni (100 %) mempunyai nilai kalor 8900 kkal/m3. Produksi gasbio sebanyak 1275-4318 I dapat digunakan untuk memasak, penerangan, menyeterika dan mejalankan lemari es untuk keluarga yang berjumlah lima orang per hari (Simamora, 1989).

Hasil biogas dari rata 3 – 5 ekor sapi tersebut setara dengan 1-2 liter minyak tanah/hari. Dengan demikian keluarga peternak yang sebelumnya menggunakan minyak tanah untuk memasak bisa menghemat penggunaan minyak tanah 1-2 liter/hari. Pemanfaatan biogas di Indonesia sebagai energi alternatif sangat memungkinkan untuk diterapkan di masyarakat, apalagi sekarang ini harga bahan bakar minyak yang makin mahal dan kadang-kadang langka keberadaannya. Besarnya potensi Limbah biomassa padat di seluruh Indonesia seperti kayu dari kegiatan industri pengolahan hutan, pertanian dan perkebunan; limbah kotoran hewan, misalnya kotoran sapi, kerbau, kuda, dan babi juga dijumpai di seluruh provinsi Indonesia dengan kualitas yang berbeda-beda (Deptan, 2006).

Volume digester yang akan dibangun adalah 2 m3, sehingga volume biogas yang dihasilkan per harinya adalah 7,92 m3 (Note – ganti nilainya sesuai keadaan di lapangan. Nilai ini untuk menghitung minyak tanah yang tergantikan (dalam liter)). Dari jumlah biogas yang dihasilkan dapat diketahui jumlah minyak tanah yang dapat terganti oleh biogas setiap harinya berdasarkan pada kesetaraan nilai kalori biogas dengan minyak tanah. Tabel diatas adalah tabel Nilai Kalori Beberapa Bahan Bakar (Suyati, 2006)

Bioenergi selain bisa diperbaharui bersifat ramah lingkungan, dapat terurai, mampu mengeliminasi efek rumak kaca dan kontinyuitas bahan baku cukup terjamin. Bahan baku bioenergi dapat diperoleh dengan cara sederhana yaitu melalui budidaya tanaman penghasil biofuel dan memanfaatkan limbah yang ada di sekitar kehidupan manusia (Setiawan, 2008).

Manfaat energi gas bio adalah sebagai peganti bahan bakar khususnya minyak tanah dan dipergunakan untuk memasak. Di samping itu, dari proses produksi gas bio akan dihasilkan sludge atau lumpur yang dapat langsung dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman atau budidaya pertanian. Ada beberapa jenis reaktor gas bio yang dikembangkan di antaranya adalah reaktor jenis kubah tetap (fixed-dome), reaktor terapung (floating drum), reaktor jenis balon, jenis horizontal, jenis lubang tanah, jenis ferrocement (Hambali, 2007).

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

  1. A.    Tujuan

Mengetahui bagaimana cara pengelolaan limbah ternak (kotoran ayam) menggunakan teknologi anaerob untuk pembuatan biogas

  1. B.     Alat dan Bahan
    1. 1.      Alat
      1. Botol air mineral 1500 ml                                                2 buah
      2. Botol air mineral 600 ml                                                  2 buah
      3. Selang                                                                              3 buah
      4. Gunting                                                                            1 buah
      5. Solder                                                                               1 buah
      6. Ember                                                                               1 buah
      7. Blender                                                                            1 buah
      8. Gelas ukur                                                                        1 buah
      9. Spidol                                                                               1 buah
      10. Masker                                                                             5 buah
      11. Sarung tangan                                                                  5 buah
      12. Cetok pengaduk                                                               1 buah
      13. 2.      Bahan
        1. Substrat Limbah buah                                                      100 ml
        2. Inokulum campuran kotoran ayam                                  100 ml
        3. Air                                                                                    100 ml
        4. Lem alteco                                                                       1 buah
        5. C.    Cara Kerja
          1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
          2. Merangkai alat percobaan seperti dibawah ini:
          3. Menyiapkan kotoran ternak (kotoran ayam) dengan menambahkan air setara/sebagian untuk difermentasikan sebagai sumber inokulum.
          4. Mengencerkan substrat yang telah dihomogenkan dan air dengan rasio 1:1
          5. Digester diisi dengan kotoran ayam yang telah dicampur dengan bahan organik (limbah buah), pengisian volume biodigester terdiri dari 20% untuk inokulum, 60% substrat dan 20 % rongga untuk produksi biogas yang dihasilkan.
          6. Mengaduk biodigester setiap hari pada waktu pagi hari selama 15 menit
          7. Digester dirangkaikan dengan botol pengumpul gas yang penuh diisi air. Setelah biogas terbentuk maka biogas akan dialirkan dari digester kedalam bototl penampung gas, melalui selang kecil sehingga air akan terdorong keluar dan biogas akan masuk kedalam botol tersebut (menggantikan air)
          8. Mengukur volume gas yang terbentuk selama 1 minggu.

 

  1. D.    Hasil dan Pembahasan
  2. 1.      Hasil

Dalam Praktikum BioGas ini kelompok kami menggunakan kotoran ayam sebanyak 100 ml sebagai sumber inokulum, sedangkan untuk substratnya kami menggunakan limbah buah sebanyak 400 ml. Hasil yang kami dapat dari praktikum ini setelah melakukan pengamatan setiap minggu selama empat minggu hasilnya memuaskan karena gas yang dihasilkan cukup banyak. Praktikum ini sudah dapat dikatakan berhasil karena gas yang dihasilkan cukup banyak dan saat pegujian dengan memasukkan gas kedalam bak air secara terbalik dan teliti, air dalam bak tidak masuk kedalam botol berarti dalam botol tersebut terdapat biogas.

  1. 2.      Pembahasan

Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari proses dekomposisi bahan organik dalam kondisi an-aerobik. Dalam proses dekomposisi tersebut dihasilkan beragam gas yaitu metan (CH4) sebanyak 65%, karbondioksida (CO2) sebanyak 33% dan gas lainnya seperti N2, O2, H2, H2S sebanyak 2%. Gas yang dapat dimanfaatkan sebagai energi dari proses tersebut adalah gas metan. Biogas dapat dibuat dari limbah kotoran hewan ternak. Limbah ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemelihraan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produk ternak dan lain-lain. Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, isi rumen, dll. Umumnya setiap kilogram susu yang dihasilkan ternak sapi perah menghasilkan 2 kg limbah padat (feses).

Limbah kotoran hewan apabila tidak dikelola dengan benar dapat menyebabakan pencemaran lingkungan. Misalnya pencemaran karena gas metan yang dapat menyebabkan bau tidak sedap bagi lingkungan sekitar. Gas metan (CH4) berasal dari proses pencernaan ternak ruminansia misalnya saja sapi, kerbau atau kambing. Gas metan ini adalah salah satu gas yang bertanggung jawab terhadap pemanasan global dan perusakan ozon, dengan laju 1 % per tahun dan terus meningkat. Di Indonesia, emisi metan per unit pakan atau laju konversi metan lebih besar karena kualitas hijauan pakan yang diberikan rendah. Semakin tinggi jumlah pemberian pakan kualitas rendah, semakin tinggi produksi metan. Untuk mengatasi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh limbah kotoran ternak tersebut maka limbah kotoran ternak tersebut dapat kita manfaatkan untuk berbagai hal, misalnya untuk pembuatan Pakan ternak  dan Media Cacing Tanah dan pemanfaatan Sebagai Pupuk Organik. Tetapi dalam praktikum kali ini akan membahas tentang pemanfaatan limbah kotoran hewan ternak untuk pembuatan biogas.

Saat ini biogas dari kotoran ternak menjadi alternatif penyediaan energi di pedesaan karena semakin mahal dan langkanya minyak tanah serta kayu bakar. Untuk memanfaatkan kotoran ternak menjadi gas bio, diperlukan beberapa syarat yang terkait dengan aspek teknis, infrastruktur, manajemen dan sumber daya manusia. Bila faktor tersebut dapat dipenuhi, maka pemanfaatan kotoran ternak menjadi gas bio sebagai penyediaan energi dipedesaan dapat berjalan dengan optimal. Kotoran ternak ruminansia sangat baik untuk digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biogas. Ternak ruminansia mempunyai sistem pencernaan khusus yang menggunakan mikroorganisme dalam sistem pencernaannya yang berfungsi untuk mencerna selulosa dan lignin dari rumput atau hijauan berserat tinggi. Oleh karena itu pada tinja ternak ruminansia, khususnya sapi mempunyai kandungan selulosa yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa tinja sapi mengandung 22.59% sellulosa, 18.32% hemi-sellulosa, 10.20% lignin, 34.72% total karbon organik, 1.26% total nitrogen, 27.56:1 ratio C:N, 0.73% P, dan 0.68% K .

 

Terdapat beberapa  keuntungan  penggunaan  kotoran ternak sebagai  penghasil  biogas  sebagai berikut :

  1. Mengurangi pencemaran lingkungan terhadap air dan tanah, pencemaran udara (bau).
  2. Memanfaatkan limbah ternak tersebut sebagai bahan bakar biogas yang dapat digunakan sebagai energi alternatif untuk keperluan rumah tangga.
  3. Mengurangi biaya pengeluaran peternak untuk kebutuhan energi bagi kegiatan rumah tangga yang berarti dapat meningkatkan kesejahteraan peternak.
  4. Melaksanakan pengkajian terhadap kemungkinan dimanfaatkannya biogas untuk menjadi energi listrik untuk diterapkan di lokasi yang masih belum memiliki akses listrik.
  5. Melaksanakan pengkajian terhadap kemungkinan dimanfaatkannya kegiatan ini sebagai usulan untuk mekanisme pembangunan bersih (Clean Development Mechanism).

Terdapat sepuluh faktor yang dapat mempengaruhi optimasi pemanfaatan kotoran ternak sapi menjadi biogas yaitu:

  1. Ketersediaan ternak

Jenis jumlah dan sebaran ternak di suatu daerah dapat menjadi potensi bagi pengembangan biogas. Hal ini karena biogas dijalankan dengan memanfaatkan kotoran ternak. Kotoran ternak yang dapat diproses menjadi biogas berasal dari ternak ruminansia dan non ruminansia seperti sapi potong, sapi perah dan babi; serta unggas.

Jenis ternak mempengaruhi jumlah kotoran yang dihasilkannya. Untuk menjalankan biogas skala individual atau rumah tangga diperlukan kotoran ternak dari 3 ekor sapi, atau 7 ekor babi, atau 400 ekor ayam.

  1. Kepemilikan Ternak

Jumlah ternak yang dimiliki oleh peternak menjadi dasar pemilihan jenis dan kapasitas biogas yang dapat digunakan. Saat ini biogas kapasitas rumah tangga terkecil dapat dijalankan dengan kotoran ternak yang berasal dari 3 ekor sapi atau 7 ekor babi atau 400 ekor ayam. Bila ternak yang dimiliki lebih dari jumlah tersebut, maka dapat dipilihkan biogas dengan kapasitas yang lebih besar (berbahan fiber atau semen) atau beberapa biogas skala rumah tangga.

  1. Pola Pemeliharaan Ternak

Ketersediaan kotoran ternak perlu dijaga agar biogas dapat berfungsi optimal. Kotoran ternak lebih mudah didapatkan bila ternak dipelihara dengan cara dikandangkan dibandingkan dengan cara digembalakan.

  1. Ketersediaan Lahan

Untuk membangun biogas diperlukan lahan disekitar kandang yang luasannya bergantung pada jenis dan kapasitas biogas. Lahan yang dibutuhkan untuk membangun biogas skala terkecil (skala rumah tangga) adalah 14 m2 (7m x 2m). Sedangkan skala komunal terkecil membutuhkan lahan sebesar 40m2 (8m x 5m).

  1. Tenaga Kerja

Untuk mengoperasikan biogas diperlukan tenaga kerja yang berasal dari peternak/pengelola itu sendiri. Hal ini penting mengingat biogas dapat berfungsi optimal bila pengisian kotoran ke dalam reaktor dilakukan dengan baik serta dilakukan perawatan peralatannya.

Banyak kasus mengenai tidak beroperasinya atau tidak optimalnya biogas disebabkan karena: pertama, tidak adanya tenaga kerja yang menangani unit tersebut; kedua, peternak/pengelola tidak memiliki waktu untuk melakukan pengisian kotoran karena memiliki pekerjaan lain selain memelihara ternak.

  1. Manajemen Limbah/Kotoran

Manajemen limbah/kotoran terkait dengan penentuan komposisi padat cair kotoran ternak yang sesuai untuk menghasilkan biogas, frekuensi pemasukan kotoran, dan pengangkutan atau pengaliran kotoran ternak ke dalam raktor.

 

Bahan baku (raw material) reaktor biogas adalah kotoran ternak yang komposisi padat cairnya sesuai yaitu 1 berbanding 2. Pada peternakan sapi perah komposisi padat cair kotoran ternak biasanya telah sesuai, namun pada peternakan sapi potong perlu penambahan air agar komposisinya menjadi sesuai.

Frekuensi pemasukan kotoran dilakukan secara berkala setiap hari atau setiap 2 hari sekali tergantung dari jumlah kotoran yang tersedia dan sarana penunjang yang dimiliki. Pemasukan kotoran ini dapat dilakukan secara manual dengan cara diangkut atau melalui saluran.

  1.  Kebutuhan Energi

Pengelolaan kotoran ternak melalui proses reaktor an-aerobik akan menghasilkan gas yang dapat digunakan sebagai energi. Dengan demikian, kebutuhan peternak akan energi dari sumber biogas harus menjadi salah satu faktor yang utama. Hal ini mengingat, bila energi lain berupa listrik, minyak tanah atau kayu bakar mudah, murah dan tersedia dengan cukup di lingkungan peternak, maka energi yang bersumber dari biogas tidak menarik untuk dimanfaatkan.

Bila energi dari sumber lain tersedia, peternak dapat diarahkan untuk mengolah kotoran ternaknya menjadi kompos atau kompos cacing (kascing).

  1. Jarak (kandang-reaktor biogas-rumah)

Energi yang dihasilkan dari reaktor biogas dapat dimanfaatkan untuk memasak, menyalakan petromak, menjalankan generator listrik, mesin penghangat telur/ungas dll. Selain itu air panas yang dihasilkan dapat digunakan untuk proses sanitasi sapi perah.

Pemanfaatan energi ini dapat optimal bila jarak antara kandang ternak, reaktor biogas dan rumah peternak tidak telampau jauh dan masih memungkinkan dijangkau instalasi penyaluran biogas. Karena secara umum pemanfaatan energi biogas dilakukan di rumah peternak baik untuk memasak dan keperluan lainnya.

  1. Pengelolaan Hasil Samping Biogas

Pengelolaan hasil samping biogas ditujukan untuk memanfaatkannya menjadi pupuk cair atau pupuk padat (kompos). Pengeolahannya relatif sederhana yaitu untuk pupuk cair dilakukan fermentasi dengan penambahan bioaktivator agar unsur haranya dapat lebih baik, sedangkan untuk membuat pupuk kompos hasil samping biogas perlu dikurangi kandungan airnya dengan cara diendapkan, disaring atau dijemur.

Pupuk yang dihasilkan tersebut dapat digunakan sendiri atau dijual kepada kelompok tani setempat dan menjadi sumber tambahan pandapatan bagi peternak.

  1. Sarana Pendukung

Sarana pendukung dalam pemanfaatan biogas terdiri dari saluran air/drainase, air dan peralatan kerja. Sarana ini dapat mempermudah operasional dan perawatan instalasi biogas. Saluran air dapat digunakan untuk mengalirkan kotoran ternak dari kandang ke reaktor biogas sehingga kotoran tidak perlu diangkut secara manual. Air digunakan untuk membersihkan kandang ternak dan juga digunakan untuk membuat komposisi padat cair kotoran ternak yang sesuai. Sedangkan peralatan kerja digunakan untuk mempermudah /meringankan pekerjaan/perawatan instalasi biogas.

Pada prinsipnya teknologi biogas adalah teknologi yang memanfaatkan proses fermentasi (pembusukan) dari sampah organik secara anaerobik (tanpa udara) oleh bakteri metan sehingga dihasilkan gas metan. Proses pencernaan anaerobik merupakan dasar dari reaktor biogas yaitu proses pemecahan bahanorganik oleh aktivitas bakteri metanogenik dan bakteri asidogenik pada kondisi tanpa udara, bakteri ini secara alami terdapat dalam limbah yang mengandung bahan organik, seperti kotoran binatang, manusia, dan sampah organik rumah tangga. Gas metan adalah gas yang mengandung satu atom C dan 4 atom H yang memiliki sifat mudah terbakar. Gas metan yang dihasilkan kemudian dapat dibakar sehingga dihasilkan energi panas. Bahan organik yang bisa digunakan sebagai bahan baku industri ini adalah sampah organik, limbah yang sebagian besar terdiri dari kotoran dan potongan-potongan kecil sisa-sisa tanaman, seperti jerami dan sebagainya serta air yang cukup banyak.

Proses fermentasi memerlukan kondisi tertentu seperti rasio C : N, temperatur, keasaman juga jenis digester yang dipergunakan. Kondisi optimum yaitu pada temperatur sekitar 32 – 35°C atau 50 – 55°C dan pH antara 6,8 – 8 . Pada kondisi ini proses pencernaan mengubah bahan organik dengan adanya air menjadi energi gas.

Jika dilihat dari segi pengolahan limbah, proses anaerobik juga memberikan beberapa keuntungan lain yaitu  menurunkan nilai COD dan BOD, total solid, volatile solid, nitrogen nitrat dan nitrogen organic, bakteri coliform dan patogen lainnya, telur insek, parasit, dan bau. Proses pencernaan anaerobik, yang merupakan dasar dari reaktor biogas yaitu proses pemecahan bahan organik oleh aktifitas bakteri metanogenik dan bakteri asidogenik pada kondisi tanpa udara. Bakteri ini secara alami terdapat dalam limbah yang mengandung bahan organik, seperti kotoran binatang, manusia, dan sampah organik rumah tangga.

Dalam pembentukan biogas meliputi tiga tahap proses yaitu:

  1. Hidrolisis, pada tahap ini terjadi penguraian bahan-bahan organik mudah larut dan pemecahan bahan organik yang komplek menjadi sederhana dengan bantuan air (perubahan struktur bentuk polimer menjadi bentuk monomer).
  2. Pengasaman, pada tahap pengasaman komponen monomer (gula sederhana) yang terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk asam. Produk akhir dari perombakan gula-gula sederhana tadi yaitu asam asetat, propionat, format, laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas karbondioksida, hidrogen dan ammonia.
  3. Metanogenik, pada tahap metanogenik terjadi proses pembentukan gas metan. Bakteri pereduksi sulfat juga terdapat dalam proses ini yang akan  mereduksi sulfat dan komponen sulfur lainnya menjadi hydrogen sulfida.

                        Untuk menghasilkan biogas, dibutuhkan pembangkit biogas yang disebut biodigester. Proses penguraian material organik terjadi secara anaerob (tanpa oksigen). Biogas terbentuk pada hari ke 4 – 5 sesudah biodigester terisi penuh, dan mencapai puncak pada hari ke 20 – 25. Biogas yang dihasilkan oleh biodigester sebagian besar terdiri dari 50 – 70% metana (CH4), 30 – 40% karbondioksida (CO2), dan gas lainnya dalam jumlah kecil.

                        Selama beberapa tahun, masyarakat pedesaan di seluruh dunia telah menggunakan biodigester untuk mengubah limbah pertanian dan peternakan yang mereka miliki menjadi bahan bakar gas. Pada umumnya, biodigester dimanfaatkan pada skala rumah tangga. Namun tidak menutup kemungkinan untuk dimanfaatkan pada skala yang lebih besar (komunitas). Biodigester mudah untuk dibuat dan diperasikan. Beberapa keuntungan yang dimiliki oleh biodigester bagi rumah tangga dan komunitas antara lain:

  • Mengurangi penggunaan bahan bakar lain (minyak tanah, kayu, dsb) oleh rumah tangga atau komunitas
  • Menghasilkan pupuk organik berkualitas tinggi sebagai hasil sampingan
  • Menjadi metode pengolahan sampah (raw waste) yang baik dan mengurangi pembuangan sampah ke lingkungan (aliran air/sungai)
  • Meningkatkan kualitas udara karena mengurangi asap dan jumlah karbodioksida akibat pembakaran bahan bakar minyak/kayu bakar
  • Secara ekonomi, murah dalam instalasi serta menjadi investasi yang menguntungkan dalam jangka panjang

            Biogas yang terbentuk dapat dijadikan bahan bakar karena mengandung gas metan (CH4) dalam persentase yang cukup tinggi.

 

Komponen biogas tersajikan pada Tabel berikut.

 Komponen penyusun biogas

Jenis Gas

Persentase

Metan (CH4)

Karbondioksida (CO2)

Air (H2O)

Hidrogen sulfide (H2S)

Nitrogen (N2)

Hidrogen

50-70%

30-40%

0,3%

Sedikit sekali

1- 2%

5-10%

 Sebagai pembangkit tenaga listrik, energi  yang dihasilkan oleh biogas setara dengan 60 – 100 watt lampu selama 6 jam penerangan. Kesetaraan biogas dibandingkan dengan bahan bakar lain dapat dilihat pada Tabel berikut:

 

 

 

 

 Tabel Nilai kesetaraan biogas dan energi yang dihasilkan

Aplikasi

1m3 Biogas setara dengan

 

 

1 m3 biogas

 

Elpiji 0,46 kg

Minyak  tanah 0,62 liter

Minyak solar 0,52 liter

Kayu bakar 3,50 kg

 Biogas sebagai salah satu sumber energi yang dapat diperbaharui dapat menjawab kebutuhan akan energi sekaligus menyediakan kebutuhan hara tanah dari pupuk cair dan padat yang merupakan hasil sampingannya serta mengurangi efek rumah kaca. Pemanfaatan biogas sebagai sumber energi alternatif dapat mengurangi penggunaan kayu bakar. Dengan demikian dapat mengurangi usaha penebangan hutan, sehingga ekosistem hutan terjaga. Biogas menghasilkan api biru yang bersih dan tidak menghasilkan asap.

Energi biogas sangat potensial untuk dikembangkan kerena produksi biogas peternakan ditunjang oleh kondisi yang kondusif dari perkembangkan dunia peternakan sapi di Indonesia saat ini. Disamping itu, kenaikan tarif listrik, kenaikan harga LPG (Liquefied Petroleum Gas), premium, minyak tanah, minyak solar, minyak diesel dan minyak bakar telah mendorong pengembangan sumber energi elternatif yang murah, berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Dalam Praktikum BioGas ini kelompok kami menggunakan campuran kotoran sapi dan kotoran ayam sebanyak 200 ml sebagai sumber inokulum, sedangkan untuk substratnya kami menggunakan limbah buah sebanyak 100 ml. Hasil yang kami dapat dari praktikum ini setelah melakukan pengamatan setiap minngu selama empat minggu hasilnya memuaskan karena gas yang dihasilkan cukup banyak. Pada pengamatan mingu ketiga mengalami kegagalan karena selang penghubungnya terlipat sehingga gas yang dihasilkan tidak dapat mengalir, karena hal tersebut maka pengamatan tidak dilanjutkan lagi. Akan tetapi praktikum ini sudah dapat dikatakan berhasil karena gas yang dihasilkan cukup banyak dan saat pegujian dengan menggunakan korek api terjadi nyala api dari gas tersebut, selain itu juga terdapat bau yang tidak enak seperti bau kentut hal ini disebabkan karena gas tersebut mengandung gas metanol. Meskipun bau gas yang dihasilkan berbau tidak enak tetapi bau tersebut tidak akan mempengarui rasa ataupun bau dari hasil masakan yang dimasak dengan bio gas tersebut.

 

Dalam melakukan praktikum terdapat sedikit kegagalan karena beberapa hal, antara lain :

  1. Ketepatan pemasangan posisi selang pada tutup botol air mineral, tidak boleh ada sisa ruang antara selang dan lubang pada tutup botol.

Pada saat praktikum selang penghubung yang digunakan terlipat sehingga mempengaruhi volume gas yang dihasilkan, ini karena gas yang dihasilkan tidak dapat mengalir kebotol selanjutnya.

  1. Kebersihan botol yang digunakan. Apabila botol yang digunakan terdapat zat lain, maka akan mempengaruhi produksi gas.
  2. Pengocokan tidak dilakukan secara rutin, dan lain-lain.
  3. E.     Diskusi
  4. Bagaimanakah cara mengetahui gas yang terbentuk dari proses fermentasi anaerob?

Jawaban:

  1. Dengan cara memasukkan botol dari hasil pembuatan gas dengan pelahan kedalam bak yang berisi air dengan  cara terbalik, jika air tidak masuk kedalam botol bearti didalam botol tersebut terdapat gas,begitu pula sebaliknya.
  2. Dengan membuka botol hasil dari percobaan biogas tadi kemudian dicoba dengan nyala korek api, jika terjadi nyala api pada botol tadi berarti didalam bototl terdapat gas.
  3. Mengapa substrat yang digunakan dalam proses pembuatan biogas harus diaduk?

Jawaban:

Substrat yang digunakan dalam pembuatan biogas harus diaduk agar diperoleh substrat yang homogen, sehingga nanti bisa didapatkan biogas dalam jumlah yang maksimum.

 

  1. Apa yang terjadi jika diester yang digunakan tidak tertutup rapat?

Jawaban:

Jika tidak ditutup rapat, maka biogas yang terbentuk tidak dapat terkumpul dan akhrnya akan keluar melalui celah yang tidak rapat tadi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan
    1. Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari proses dekomposisi bahan organik dalam kondisi an-aerobik.
    2. Biogas dapat dibuat dari limbah kotoran hewan ternak, limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, isi rumen, dll.
    3. Teknologi biogas adalah teknologi yang memanfaatkan proses fermentasi (pembusukan) dari sampah organik secara anaerobik (tanpa udara) oleh bakteri metan sehingga dihasilkan gas metan.
    4. Dalam Praktikum BioGas ini kelompok kami menggunakan kotoran ayam sebanyak 200 ml sebagai sumber inokulum, sedangkan untuk substratnya kami menggunakan limbah buah sebanyak 100 ml.
    5. Hasil praktikum kami berhasil karena terdapat cukup banyak gas yang dihasilkan.
    6. B.     Saran

Diharapkan kegiatan praktikum tentang biogas ini ada tindak lanjut yang dapat dilakukan, misalnya mahasiswa dapat mengembangkannya kembali di rumah masing ataupun lingkungan sekitarnya, dan diharapkan ada sosialisasi tentang pembuatan bio gas terhadap masyarakat luas agar mayarakat tersebut memiliki keinginan untuk mengembangkan pembuatan biogas di lingkungannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Deptan, 2006. Intalasi Pembuatan Rektor Biogas Teknik Membuat dan Memanfaatkan Unit Gasbio Edisi Pertama. Yogyakarta: Penerbit Agromedia Press.

Hambali, E., S. Mujdalipah., A.H. Tambunan., A.W. Pattiri dan R. Hendroko. 2007. Teknologi Bioenergi. Jakarta: PT Agromedia Pustaka,.

Haryati, T., 2006. Biogas : Limbah Peternakan yang Menjadi Sumber Energi Alternatif. Jurnal Wartazoa 6(3) : 160 – 169.

Nurhasanah, A., T.W. Widodo., A. Asari dan E. Rahmarestia. 2006. Perkembangan Digester Biogas di Indonesia. http://www.mekanisasi.litbang.go.id. (7 Januari 2013).

Pambudi, N.A.2008. Pemanfaatan Biogas sebagai Energi Alternatif. http://www.dikti.org/?q=node/99   (7 Januari 2013).

Setiawan, A.I. 2008. Memanfaatkan Kotoran Ternak Solusi Masalah Lingkungan dan Pemanfaatan Energi Alternatif. Jakarta: PT. Penebar Swadaya.

Simamora, S. et al. 2006. Membuat Biogas Pengganti Bahan Bakar Minyak Dan Gas Dari Kotoran Ternak. Jakarta: AgroMedia Pustaka.

Sulaeman, D. 2008. Sepuluh Faktor Sukses Pemanfaatan Biogas Kotoran Ternakhttp://www.agribisnis.deptan.gp.id/layanan.inf. (7 Januari 2013).

Suyati, F., 2006, Perancangan Awal Instalasi Biogas Pada Kandang Terpencar Kelompok Ternak Tani Mukti Andhini Dukuh Butuh Prambanan Untuk Skala Rumah Tangga, Skripsi, Jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Widodo, T.W., A. Nurhasanah., A. Asari dan A. Unadi. 2006. Pemanfaatan Energi Biogas untuk Mendukung Agribisnis di Pedesaan. http://www.mekanisasi.litbang.go.id (7 januari 2013).

 

 

 

LAMPIRAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM

LATIHAN IV

BIOETANOL

 

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir

Mata Kuliah Pilihan (MKP)

Pengolahan Limbah Organik (PLO)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Kelompok VI

 

  1. 1.      Nur Aini                               (A420 090 002)
  2. 2.      Hidayah Novi S. L               (A420 090 048)
  3. 3.      Eneng Cahya                       (A420 090 089)
  4. 4.      Vutri Novita R                     (A420 090 112)
  5. 5.      Endang Sulastri                   (A420 090 217)

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2013

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Kenaikan harga bahan bakar minyak dan menipisnya cadangan sumber minyak bumi di Indonesia sekarang ini dapat menjadi penghambat pembangunan pertanian berkelanjutan. Berdasarkan masalah tersebut, maka diperlukan upaya untuk mencari sumber-sumber energi alternatif. Salah satu potensi energi alternatif adalah limbah biomasa yang dihasilkan dari aktivitas produksi pertanian yang jumlahnya sangat besar. Satu di antaranya adalah pemanfaatan limbah biomassa. Limbah buah merupakan salah satu yang menghasilkan limbah biomassa, yaitu sebagai bahan baku pembuatan ethanol.

Bioetanol merupakan salah satu bahan bakar nabati yang saat ini menjadi primadona untuk mengggantikan minyak bumi. Minyak bumi saat ini harganya semakin meningkat, selain kurang ramah lingkungan juga termasuk sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Bioetanol mempunyai kelebihan selain ramah lingkungan, penggunaannya sebagai campuran BBM terbukti dapat mengurangi emisi karbon monoksida dan asap lainnya dari kendaraan. Selain hemat, pembuatannya bisa dilakukan di rumah dengan mudah, lebih ekonomis dibandingkan menggunakan minyak tanah. Dengan demikian bisnis bioetanol di Indonesia mempunyai prospek yang cerah karena melimpahnya bahan baku, seperti singkong, tebu, aren, jagung maupun hasil samping pabrik gula (molase).

Bioetanol dapat dihasilkan dari hasil pertanian yang tidak layak/tidak bisa dikonsumsi, seperti dari sampah/limbah pasar, limbah pabrik gula (tetes/mollases). Yang penting bahan apapun yang mengandung karbohidrat & gula, dapat diproses menjadi bioetanol. Melalui proses sakarifikasi (pemecahan gula komplek menjadi gula sederhana), fermentasi, dan distilasi, bahan-bahan tersebut dapat dikonversi menjadi bahan bakar bioetanol. Untuk menjaga kestabilan pangan sebaiknya bioetanol diproduksi dari bahan-bahan yang tidak layak/tidak bisa dikonsumsi, seperti singkong gajah yang beracun, dari sampah atau limbah apapun yang mengandung karbohidrat & gula, melalui proses sakarifikasi (pemecahan gula komplek menjadi gula sederhana), fermentasi, dan distilasi, bahan-bahan tersebut akhirnya dikonversi menjadi bioetanol.  Produksi etanol nasional pada tahun 2006 mencapai 200 juta liter. Kebutuhan etanol nasional pada tahun 2007 diperkirakan mencapai 900 juta kiloliter. Alternatif lain bahan baku bioetanol yaitu biomassa berselulosa. Biomassa berselulosa merupakan sumber daya alam yang berlimpah dan murah serta memiliki potensi untuk produksi komersial industri etanol atau butanol. Selain dikonversi menjadi biofuel, biomassa berselulosa juga dapat mendukung produksi komersial industri kimia seperti asam organik, aseton atau gliserol.
Bioetanol adalah cairan yang dihasilkan dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat dengan bantuan mikroorganisme.

Bioetanol dapat juga diartikan juga sebagai bahan kimia yang memiliki sifat menyerupai minyak premium. Saat ini bioethanol juga bisa dijadikan pengganti bahan bakar minyak tanah. Bahan baku pembuatan bioetanol ini dibagi menjadi tiga kelompok yaitu: bahan sukrosa (nira, tebu, nira nipah, nira sargum manis, nira kelapa, nira aren, dan sari buah mete), bahan berpati (bahan yang mengandung pati atau karbohidrat seperti tepung ubi, tepung ubi ganyong, sorgum biji, jagung, cantel, sagu, ubi kayu, ubi jalar, dan lain–lain, dan bahan berselulosa/lignoselulosa (tanaman yang mengandung selulosa /serat seperti kayu, jerami, batang pisang, dan lain-lain.

 

  1. B.     Tinjauan Pustaka

 

Menurut pramono (2004), dari total sampah organik kota sekitar 60% merupakan sayur-sayuran dan 40% merupakan daun-daunan, kulit buah-buahan dan sisa makanan. Sampah organik terutama sampah sayuran dan buah-buahan banyak mengandung selulosa, pati, gula, dan hemiselulosa sehingga sangat potensial untuk dijadikan sebagai bahan baku pembuatan etanol.

Menurut Anne (2010), salah satu yang termasuk sampah organik adalah sampah buah-buahan dimana sampah tersebut mengandung protein, karbohidrat dan lemak seperti pisang dan nanas. Pisang mengandung tiga jenis gula alami, yaitu sukrosa, fruktosa dan glukosa yang dapat memberikan tambahan energi. Penelitian telah membuktikan bahwa dengan dua buah pisang dapat menambah energi selama 90 menit.

Menurut Rizani (2000), etanol atau etil alkohol yang di pasaran lebih dikenal sebagai alkohol merupakan senyawa organik dengan rumus kimia C2H5OH. Dalam kondisi kamar, etanol berwujud cairan yang tidak berwarna, mudah menguap, mudah terbakar, mudah larut dalam air dan tembus cahaya. Etanol adalah senyawa organik golongan alkohol primer. Sifat fisik dan kimia etanol bergantung pada gugus hidroksil. Reaksi yang dapat terjadi pada etanol antara lain dehidrasi, dehidrogenasi, oksidasi, dan esterifikasi.

Menurut Prihandana (2007), bioetanol (C2H5OH) adalah cairan dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. Bahan baku pembuatan bioetanol ini dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:

a. Bahan sukrosa: bahan-bahan yang termasuk dalam kelompok ini antara lain nira, tebu, nira nipati, nira sargum manis, nira kelapa, nira aren, dan sari buah mete.

b. Bahan berpati: bahan-bahan yang termasuk kelompok ini adalah bahan-bahan yang mengandung pati atau karbohidrat. Bahan-bahan tersebut antara lain tepung-tepung ubi ganyong, sorgum biji, jagung, cantel, sagu, ubi kayu, ubi jalar, dan lain-lain.

c. Bahan berselulosa (lignoselulosa): bahan berselulosa (lignoselulosa) artinya adalah bahan tanaman yang mengandung selulosa (serat), antara lain kayu, jerami, batang pisang, dan lain-lain.

Menurut Faisal(2010), pada dasarnya pisang (Musa paradisiacal) mengandung tiga jenis gula alami yaitu sukrosa, fruktosa dan glukosa.Pati merupakan polimer dari glukosa atau maltosa,unit terkecil dari pati adalah glukosa yang merupakan hasil fotosintesis dari tumbuhan yang mengandung klorofil.Proses untuk mengubah pati menjadi monomernya seperti glukosa dinamakan proses hidrolisis pati.

Anonim (2010), etanol banyak digunakan sebagai pelarut, germisida, minuman, bahan anti beku, bahan bakar, dan senyawa sintetis antara senyawa-senyawa organic lainnya. Etanol sebagai pelarut banyak digunakan dalam industri farmasi, kosmetika, dan resin maupun laboratorium. Di Indonesia, industri minuman merupakan pengguna terbedar etanol, disusul berturut-turut oleh industri asam asetat, industri farmasi, kosmetika, rumah sakit, dan industri lainnya. Sebagai bahan baku, etanol digunakan untuk pembuatan senyawa asetaldehid, butadiene, dietil eter, etil asetat, asam asetat, dan sebagainya.

Menurut Fardiaz (1992), fermentasi etanol meliputi dua tahap yaitu: Pemecahan rantai karbon dari glukosa dan pelepasan paling sedikit dua pasang atom hidrogen melalui jalur EMP (Embden-Meyerhoff-Parnas), menghasilkan senyawa karbon lainnya yang lebih teroksidasi daripada glukosa. Senyawa yang teroksidasi tersebut direduksi kembali oleh atom hidrogen yang dilepaskan dalam tahap pertama, membntuk senyawa-senyawa hasil fermentasi yaitu etanol.

Menurut Henrissat (1996), glukoamilase merupakan enzim yang berperan dalam proses sakarifikasi pati. Serupa dengan enzim beta-amilase, glukoamilase dapat memecah struktur pati yang merupakan polisakarida kompleks berukuran besar menjadi molekul yang berukuran kecil. Glukoamilase akan memotong ikatan α-1,4 pada molekul pati. Enzim ini juga dapat memecah ikatan α-1,6, tetapi pada frekuensi yang lebih rendah.

Menurut Yuanita dkk (2008), selain dari tanaman pertanian yang banyak mengandung karbohidrat atau pati,bioetanol juga dapat dibuat dari buahan-buahan terutama buah-buahan yang memiliki kadar glukosa yang cukup tinggi.Pembuatan bioetanol buah dapat memanfaatkan sisa atau limbah dari buah-buahan yang tidak terjual atau tidak layak jual/hampir busuk. Salah satu buah-buahan yang dapat dijadikan bioetanol adalah pisang karena kandungan glukosa dan pati pada pisang cukup tinggi yaitu sebesar 76% pada bagian bonggolnya.

Menurut Musanif (2008), proses pembuatan bioetanol meliputi pemisahan bagian buah(bonggol,buah dan kulit),pengurangan kadar air pada bagian bonggol,hidrolisis pati menjadi glukosa menggunakan asam sulfat (H2SO4),fermentasi glukosa menjadi bioetanol,dan yang terakhir adalah distilasi bioetanol.Bagian bonggol dibersihkan,dikeringkan dan ditumbuk untuk mendapatkan pati yang homogen sebelum di fermentasikan.Sedangkan bagian buah dan kulit dihancurkan hingga menjadi seperti juice yang selanjutnya akan dilakukan proses fermentasi. Kedua hasil fermentasi glukosa yang telah menjadi bioetanol tersebut kemudian didestilasi untuk memisahkan antara etanol murni dengan kandungan airnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

 

  1. A.    Tujuan
    1. Memberi ketrampilan membuat bioetanol dari limbah organik sekitar rumah tangga dengan melakukan proses fermentasi mikroba
    2. Mahasiswa mampu mengumpulkan bahan limbah organik berbahan utama karbohidrat dengan fermentasi dari ragi atau kapang dan bakteri

 

  1. B.     Alat dan Bahan
  2. 1.      Alat
    1. ember                                1 buah
    2. blender                              1 buah
    3. pengaduk                          1 buah
    4. pengetes kadar gula          1 buah 
    5. Timbangan                        1 buah                        
    6. Kertas Lakmus                  1 buah
    7. Pisau                                  1 buah
    8. sarung tangan                    5 buah
    9. sekides                              1 buah
    10. botol air mineral                1 buah
    11. 2.      Bahan
    12. Air                                     400ml
    13. Limbah buah                     0,5 kg
    14. Gula                                  25 gr
    15.  Fermipan                          ± 25 butir

 

 

 

 

 

  1. C.    CARA KERJA
    1. Menyiapkan alat dan bahan
    2. Memotong buah-buahan yang sudah disiapkan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, kemudian tambahkan air sebanyak 400 ml dan dihaluskan dengan blender
    3. Memasukkan dalam botol air mineral, kemudian ukur pH-nya
    4. Menambahkan gula sebanyak 45 gram dan mengukur gula reduksi dengan reflaktometer, kemudian diukur lagi pH-nya
    5. Melarutkan fermipan dengan air secukupnya
    6. Memasukkan dalam botol air mineral dan ditutup, sebelumnya botol bagia sisi atas dilubangi 2-4 lubang
    7. Menfermentasi fermipan selama 3 hari, kemudian diaduk dan diamati perubahan warna dan baunya serta pHnya

 

  1. D.    Hasil dan Pembahasan
  2. 1.      Hasil

air 400 ml, berat 1 kg

ph 5

gula 45 gr

kdar gula sebelum ditambah gula 7, setelah ditambah 8

fermipan 25 butir

 

Tabel  Konversi biomasa menjadi bioetanol

Biomasa

Jumlah (Kg)

Kandungan gula  sebelum dan sesudah ditambah gula 65 gr

hasil bioetanol

(1 %)

Biomassa : Bioetanol

PH sebelum

Fermipan

(ml)

belimbing

 

1

sebelum

Sesudah

 

±70%

 

 

5

 

75

 

 

7%

8%

 

 

 

 

  1. Pembahasan

Bioetanol adalah cairan tak berwarna, mudah terbakar, dan bersifat volatil (mudah menguap). Bioetanol biasa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari pada minuman beralkohol, antiseptik, dan termometer. Secara trivial, dalam kehidupan sehari-hari, sebutan alkohol biasanya merujuk pada etanol. Kini telah populer juga bahan bakar etanol. Bioetanol adalah etanol yang terbuat dari sumber daya hayati melalui proses fermentasi biologis. Contoh paling sederhana pembuatan bietanol adalah pembuatan minuman beralkohol seperti bir, tuak atau wine. Bioetanol bisa digunakan sebagai bahan bakar karena kalor dan energi yang dihasilkannya cukup tinggi, yaitu sekitar 21,2 Mega Joule/Liter. Nilai ini hanya 35% lebih rendah dibandingkan kalor yang dihasilkan oleh bensin.

Bioetanol (C2H5OH) merupakan cairan dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. Bioetanol dapat juga diartikan juga sebagai bahan kimia yang diproduksi dari bahan pangan yang mengandung pati, seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung, dan sagu. Bioetanol merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak premium. Bioetanol yang digunakan sebagai bahan bakar mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya lebih ramah lingkungan, karena bahan bakar tersebut memiliki nilai oktan 92 lebih tinggi dari premium nilai oktan 88, dan pertamax nilai oktan 94. Hal ini menyebabkan bioetanol dapat menggantikan fungsi zat aditif yang sering ditambahkan untuk memperbesar nilai oktan. Zat aditif yang banyak digunakan seperti metal tersier butil eter dan Pb, namun zat aditif tersebut sangat tidak ramah lingkungan dan bisa bersifat toksik. Bioetanol juga merupakan bahan bakar yang tidak mengakumulasi gas karbon dioksida (CO2) dan relatif kompetibel dengan mesin mobil berbahan bakar bensin.

Pada praktikum latihan 5 ini kami menggunakan limbah buah belimbing sebagai bahan baku pembuatan bioetanol. Limbah buah belimbing yang kami gunakan adalah sebanyak 1 kg, dengan komposisi air sebanyak 350 ml. Setelah limbah buah dihaluskan kemudian ditambahkan gula 65 gr untuk proses hidrolisis pati menjadi gula. Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dalam proses pembuatan bioetanol, karena proses ini menentukan jumlah glukosa yang dihasilkan untuk kemudian dilakukan fermentasi menjadi bioetanol. Prinsip hidrolisis pati adalah pemutusan rantai polimer pati menjadi unit-unit dekstrosa atau monosakarida yaitu glukosa (C6H12O6). Pemutusan ikatan pada pati atau karbohidrat menjadi glukosa dapat menggunakan beberapa metode diantaranya yaitu metode kimiawi (hidrolisis asam) dan metode enzimatis (hidrolisis enzim).Proses hidrolisis pati dengan metode enzimatis dan metode katalis asam akan menghasilkan glukosa sebagai bahan pembuatan bioetanol. Bioetanol yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk mengatasi krisis energi. Pembuatan bioetanol dari glukosa melibatkan proses fermentasi. Fermentasi adalah perubahan 1 mol glukosa menjadi 2 mol etanol dan 2 mol CO2. Proses fermentasi dilakukan dengan menambahkan yeast atau ragi untuk mengkonversi glukosa menjadi bioetanol yang bersifat anaerob yaitu, tidak memerlukan oksigen (O2).

Bioetanol secara umum dapat digunakan sebagai bahan baku industri turunan alkohol, campuran bahan bakar untuk kendaraan. Grade bioetanol harus berbeda sesuai dengan pengunaanya. Bioetanol yang menpunyai grade 90% -96,5% volume digunakan pada industri, grade 96% – 9,5% digunakan dalam campuran untuk miras dan bahan dasar industri farmasi. Besarnya grade bioetanol yang dimanfaatkan sebagai campuran bahan bakar untuk kendaraan harus betul –betul kering dan anhydrous supaya tidak menyebabkan korosi, sehingga bioetanol harus mempunyai grade sebesar 99,5% -100%.Bioetanol yang digunakan sebagai bahan bakar mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya lebih ramah lingkungan, karena bahan bakar tersebut memiliki nilai oktan 92 lebih tinggi dari premium nilai oktan 88, dan pertamax nilai oktan 94. Hal ini menyebabkan bioetanol dapat menggantikan fungsi zat aditif yang sering ditambahkan untuk memperbesar nilai oktan. Zat aditif yang banyak digunakan seperti metal tersier butil eter dan Pb, namun zat aditif tersebut sangat tidak ramah lingkungan dan bisa bersifat toksik. Bioetanol juga merupakan bahan bakar yang tidak mengakumulasi gas karbon dioksida (CO2) dan relatif kompetibel dengan mesin mobil berbahan bakar bensin. Kelebihan lain dari bioetanol ialah cara pembuatannya yang sederhana yaitu fermentasi menggunakan mikroorganisme tertentu.

 

  1. E.     Diskusi
    1. Mengapa kadar gulanya harus optimal yaitu menunjukkan angka 12-16?
    2. Apa fungsi dari bioetanol?
    3. Sampah apa saja yang bisa digunakan untuk pembuatan bioetanol?
    4. Apa fungsi fermipan?

 

Jawaban

  1. Kadar gula harus menunjukan angka optimal 12-16 karena pada kadar gula 12-16 dapat menghasilkan bioetanol yang optimum juga .
  2. Bioetanol secara umum dapat digunakan sebagai bahan baku industri turunan alkohol, campuran bahan bakar untuk kendaraan. Bioetanol juga merupakan bahan bakar yang tidak mengakumulasi gas karbon dioksida (CO2) dan relatif kompetibel dengan mesin mobil berbahan bakar bensin. Kelebihan lain dari bioetanol ialah cara pembuatannya yang sederhana yaitu fermentasi menggunakan mikroorganisme tertentu.
  3. Sampah yang dapat digunakan untuk pembuatan bioetanol yaitu Sampah organik terutama sampah sayuran dan buah-buahan banyak mengandung selulosa, pati, gula, dan hemiselulosa sehingga sangat potensial untuk dijadikan sebagai bahan baku pembuatan etanol.
  4. Fungsi dari fermipan adalah sebagai bahan yang digunakan untuk fermentasi, dimana nanti apabila difermentasikan selama 3 hari didapatkan bioetanol.

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan
    1. Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme.
    2. Bioetanol secara umum dapat digunakan sebagai bahan baku industri turunan alkohol, campuran bahan bakar untuk kendaraan.
    3. Dengan ditemukanya bioetanol maka dapat menekan biaya dan juga mampu mengatasi semakin berkurangnya energi bumi khususnya minyak dan juga permasalahan krisis BBM yang sedang terjadi di Indonesia.

 

  1. B.     Saran

Diharapkan kegiatan praktikum tentang bioetanol ini ada tindak lanjut yang dapat dilakukan, misalnya mahasiswa dapat mengembangkannya kembali di rumah masing ataupun lingkungan sekitarnya, dan diharapkan ada sosialisasi tentang pembuatan bioetanol terhadap masyarakat luas agar mayarakat tersebut memiliki keinginan untuk mengembangkan pembuatan bioetanol di lingkungannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anne,2010, Bahan Bakar Etanol, Sumber Energi Masa Depan, [online], (http://www.anneahira.com/bahan-bakar-etanol.htm, diakses tanggal 11 januari 2013)

Anonim. 2011. Potensi bonggol pisang pisang dalam pembuatan bioetanol. http://www.bonggolpisang.com.[Diakses: 11  januari 2013].

Assegaf,Faisal.2009.Prospek Produksi Bioetanol Bonggol Pisang(Musa paradisiacal) Menggunakan Metode Hidrolisis Asam dan Enzimatis.Lomba Karya Tulis. Universitas Jenderal Soedirman.Purwokerto.

Fardiaz, S. 1988. Fisiologi Fermentasi.  Bogor : PAU IPB.

Henrissat B, Bairoch A. 1996. Updating the sequence-based classification of glycosyl hydrolases. J. Biochem. 3(16): 695–696.

Musanif, J.2008.Bioetanol.Jurnal Bio-fuel.

Purba,M. 2004. http/www. Bonggol pisang. Com [Diakses:  11 januari 2013].

Prihandana. 2007. Bioetanol Ubi kayu Bahan Bakar Masa Depan. Jakarta:  Agromedia.

Rizani, K. Z. 2000. Pengaruh Konsentrasi Gula Reduksi dan Inokulum (Saccharomyces cerevisiae) pada Proses Fermentasi Sari Kulit Nanas (Ananas comosus L. Merr) untuk Produksi Etanol. Skripsi. Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Malang : Universitas Brawijaya.

Yuanita,dkk.2008.Pabrik Sorbitol dari Bonggol Pisang(Musa paradisiacal) dengan Proses Hidrogenasi Katalitik.Jurnal Ilmiah Teknik Kimia ITS.Surabaya.

 

 

 

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM

LATIHAN VI

PENJERNIHAN AIR DENGAN CARA PENYARINGAN

 

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir

Mata Kuliah Pilihan (MKP)

Pengolahan Limbah Organik (PLO)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Kelompok VI

 

  1. 1.      Nur Aini                               (A420 090 002)
  2. 2.      Hidayah Novi S. L               (A420 090 048)
  3. 3.      Eneng Cahya                       (A420 090 089)
  4. 4.      Vutri Novita R                     (A420 090 112)
  5. 5.      Endang Sulastri                   (A420 090 217)

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2013

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    LATAR BELAKANG

Air merupakan sumber bagi kehidupan semua makhluk di bumi. Sering kita mendengar bumi disebut sebagai planet biru, karena air menutupi 3/4 permukaan bumi. Tetapi tidak jarang pula kita mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau disaat air sumur dan sungai mulai berubah warna atau berbau. Sekalipun air sumur dan sungai atau sumber air lainnya yang kita miliki mulai menjadi keruh, kotor ataupun berbau, selama kuantitasnya masih banyak kita masih dapat berupaya merubah/menjernihkan air keruh/kotor tersebut menjadi air bersih yang layak pakai.

Ada berbagai macam cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan air bersih, dan cara yang paling mudah dan paling umum digunakan adalah dengan membuat saringan air, dan bagi kita mungkin yang paling tepat adalah membuat penjernih air atau saringan air sederhana. Perlu diperhatikan, bahwa air bersih yang dihasilkan dari proses penyaringan air secara sederhana tersebut tidak dapat menghilangkan sepenuhnya garam yang terlarut di dalam air.

Penelitian di sejumlah negara Eropa, Timur Tengah, Asia Barat dan negara lainnya saat ini tidak mensyaratkan nilai batasan minimum dan optimum terhadap tingkat kekeruhan air, jumlah kalsium maupun magnesium, dengan kata lain tidak membatasi negara-negara anggotanya dalam mengimplementasikan sebuah persyaratan kedalam peraturan nasional mereka. Terlepas dari semua perbedaan tersebut, semua meyakini bahwa kandungan mineral atau zat padat terlarut lainnya yang berlebihan dapat membahayakan kesehatan, dengan kata lain air yang tidak bersih sebaiknya tidak melebihi ambang batas tertentu terhadap kandungan zat-zat yang merugikan kesehatan atau bahkan dibuat seminimum mungkin.

Tingkat kekeruhan air akan sangat bervariasi sesuai sengan struktur atau kandungan mineral dalam tanah dan pada masing-masing lokasi. Diperlukan penelitian khusus untuk dapat mengetahui kandungan mineral sumber air pada suatu lokasi. Pada daerah yang memiliki sumber mata air permukaan tanah penelitian dapat dilakukan lebih cepat, dibandingkan dengan daerah tanpa sumber mata air dimana kemungkinan harus dilakukan melalui pengeboran terlebih dahulu. Penanggulangan secara cepat dapat dilakukan dengan cara melakukan penyaringan air dengan menggunakan beberapa teknik penyaringan air bersih secara alami/buatan maupun modern/tradisional.

 

  1. B.     TINJAUAN PUSTAKA

Filtrasi adalah proses pemisahan dari campuran heterogen yang mengandung cairan dan partikel-partikel padat dengan menggunakan media filter yang hanya meloloskan cairan dan menahan partikel-partikel padat. Prosesfiltrasi yang sederhana adalah proses penyaringan dengan media filter kertas saring (Gambar dibawah). Kertas saring kita potong melingkar jika masih bentuk lembaran empat persegi panjang atau kubus, jika telah berbentuk lingkaran lipat dua, sebanyak tiga atau empat kali. Selanjutnya buka dan letakkan dalam corong pisah sehingga tepat melekat dengan corong pisah. Tuangkan campuran heterogen yang akan dipisahkan, sedikit demi sedikit, kira-kira banyaknya campuran tersebut adalah sepertiga dari tinggi kertas. Lakukan berulang-ulang, sehingga kita dapat memisahkan partikel padat dengan cairannya. Hasil filtrasi adalah zat padat yang disebutresiden dan zat cairnya disebut dengan filtrate (Atmaja,2011).

Secara umum bahan lapisan saringan yang digunakan pada Saringan Pasir. Cepat sama dengan Saringan Pasir Lambat, yakni pasir, kerikil dan batu. Perbedaan yang terlihat jelas adalah pada arah aliran air ketika penyaringan. Pada Saringan Pasir Lambat arah aliran airnya dari atas kebawah, sedangkan pada Saringan Pasir. Cepat dari bawah keatas (up flow).Selain  itu pada saringan pasir cepat umumnya dapat melakukan backwash atau pencucian saringan tanpa membongkar keseluruhan saringan. Seperti halnya air hasil saringan yang lain, air dari hasil saringan pasir cepat ini sebaiknya didisinfeksi dari kuman penyakit terlebih dahulu sebelum  dikonsumsi. Ada berbagai macam cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan air bersih, dan cara yang paling mudah dan paling umum digunakan adalah dengan membuat saringan air, dan bagi kita mungkin yang paling tepat adalah membuat penjernih air atau saringan air sederhana. Perlu diperhatikan, bahwa air bersih yang dihasilkan dari proses penyaringan air secara sederhana tersebut tidak dapat menghilangkan sepenuhnya garam yang terlarut di dalam air. Gunakan destilasi sederhana untuk menghasilkan air yang tidak mengandung garam. (Widianingsih, 2009)

Pemisahan campuran dengan cara penyaringan digunakan untuk memisahkan campuran zat padat dengan zat cair contohnya air santan dengan ampasnya . Zat padat dengan zat padat contohnya pasir dengan kerikil . Dasar pemisahan campuran dengan cara penyaringan didasarkan didasarkan pada perbedaan ukuran Kristal dan perbedaan kelarutan .  Pemisahan air santan dapat dilakukan dengan memeras kelapa yang dicampur air . Zat cair yang dapat menembus saringan disebut filtrat sedangkan yang tertinggal disebut residu . Di laboratorium penyaringan dapat dilakukan dengan kertas saring dan corong. Prinsip pemisahan campuran ini dapat digunakan untuk penjernihan air sederhana .  Pemisahan campuran dan komponen penyusunnya dapat dilaksanakan berdasarkan ukuran Kristal, laju kelarutan, laju menguap dan perbedaan titik didih. Pemisahan campuran dapat dilakukan dengan cara: Penyaringan , kristalisasi , destilasi , sublimasi , kromatografi  (Shella, 2012).

Filtrasi adalah pembersihan partikel padat dari suatu fluida dengan melewatkannya pada medium penyaringan, atau septum, yang di atasnya padatan akan terendapkan. Range filtrasi pada industri mulai dari penyaringan sederhana hingga pemisahan yang kompleks. Fluida yang difiltrasi dapat berupa cairan atau gas; aliran yang lolos dari saringan mungkin saja cairan, padatan, atau keduanya. Suatu saat justru limbah padatnyalah yang harus dipisahkan dari limbah cair sebelum dibuang. Di dalam industri, kandungan padatan suatu umpan mempunyai range dari hanya sekedar jejak sampai persentase yang besar. Seringkali umpan dimodifikasi melalui beberapa pengolahan awal untuk meningkatkan laju filtrasi, misal dengan pemanasan, kristalisasi, atau memasang peralatan tambahan pada penyaring seperti selulosa atau tanah diatomae. Oleh karena varietas dari material yang harus disaring beragam dan kondisi proses yang berbeda.Filtrasi adalah proses penyaringan air menembus media berpori-pori. Untuk menghilangkan zat tersuspensi yang terakhir adalah dengan melakukan penyaringan.penyaringan  yang dimaksudkan disini adalah penyaringan dengan melewatkan air melalui bahan berbentuk butiran yang diatur sedemikian rupa sehingga zat padatnya tertinggal pada butiran tersebut dan dapat digunakan kembali untuk kebutuhan masyarakat (Astuti, 2012)

Filtrasi atau penyaringan adalah metoda pemisahan untuk memisahkan zat padat dari cairan dengan menggunakan alat berpori.Teknik penyaringan ini didasarkan pada perbedaan ukuran partikel.Contohnya pada saat kita menyaring santan , ampas kelapa akan tertahan pada saringan sedangkan santannya dapat melewatinya. Dalam hal ini ampas kelapa bisa disebut residu sedangkan airnya disebut fitrat. Penyaring akan menahan zat padat yang mempunyai ukuran partikel lebih besar dari pori saringan dan meneruskan pelarut .Metoda ini dimanfaatkan untuk membersihkan air dari sampah pada pengolahan air  menjernihkan preparat kimia dilabolatorium, menghilangkan pirogen (kotoran) pada air suntik injeksi dan obat-obat injeksi dan membersihakan sirop dari kotoran yang da dalam gula.Penyaringan dilaboratorium dapat menggunakan kertas saring dan penyaring buchner.Penyaring buchner adalah penyaringan yang ternbuat dari bahan kaca yang kuat dilengkapi alat penghisap (Meliana, 2010).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

  1. A.    TUJUAN

Mahasiswa mampu melakukan penjernihan pada air yang keruh.

 

  1. B.     ALAT DAN BAHAN
    1. 1.      Alat
      1. Alat potong (gergaji)               : 1 buah
      2. Bor/Solder                               : 1 buah
      3. Lem atau perekat peralon        : secukupnya
      4. Botol Air mineral 600ml         : 2 buah
      5. Bak penampung                      : 2 buah
      6. Selang kecil                             : secukupnya
      7.  Sekides                                   : 1 buah
      8. 2.      Bahan
        1. Ijuk                                          : secukupnaya
        2. Pasir halus                               : secukupnya
        3. Arang tempurung kelapa         : secukupnya
        4. Pecahan genting                      : secukupnya
        5. Kerikil                                     : secukupnya
        6. Batu                                        : secukupnya
        7. Air keruh (air sungai)              : 2 botol aqua 600 ml

 

 

 

 

 

  1. C.    PELAKSANAAN

CARA KERJA

  1. Menyiapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan.
  2. Menyediakan wadah pengendapan dan melubangi wadah atau bak pada bagian tengah dan memasang selang kecil yang dialirkan kebak penampungan sementara.
  3. Melubangi dan memasang selang kecil (± 5 cm dari dasar wadah) yang diarahkan pada bak penampungan sementara bagian bawah. Memasukkan batu besar atau batu kali pada bak penampungan sebanyak setengah bak.
  4. Menyiapakan botol penyaringan, melubangi dan memasang selang (± 5 cm dari dasar botol) pada bagian bawah atau memasang selang kecil yang menuju bak penampungan. Memasukkan bahan-bahan seperti batu (± 10 cm), kerikil (± 5 cm), arang tempurung kelapa (± 10 cm untuk botol ke-1)/ pecahan genting (± 10 cm untuk botol ke-2), ijuk (± 10 cm), pasir halus (± 10 cm) , ijuk (± 15 cm)
  5. Menyiapkan bak penampungan yang tertutup. Bak penampungan bisa dipasang keran untuk mempermudah dalam pengambilan air.
  6. Melihat tingat kekeruhan air sebelum disaring menggunakan sekides dan mengukurnya kemudian dicatat.
  7. Mengalirkan air keruh ke alat penyaringan air.
  8. Melihat tingakat kerjernihan air sesudah disaring menggunakan sekides, mengukurnya kemudian dicatat.
  9. Air bersih pada bak penampungan terakhir siap digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
  10. Catatan: untuk menjaga kemampuan atau kualitas daya saring alat penyaringan air, perlu dilakuakan pembersihan dan perawatan secara rutin dan berkala.
  11. D.    HASIL DAN PEMBAHASAN
    1. 1.      HASIL

 

Hasil tingkat kekeruhan/kejernihan air memnggunakan sekides

 

BOTOL

 

AIR SEBELUM DISARING

 

AIR SETELAH DISARING

(penyaringan sebanyak 2 X)

1

4 cm

7 cm

2

4 cm

10  cm

 

  1. 2.      PEMBAHASAN

Kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran kota untuk air minum, memasak , mencuci dan sebagiannya harus diperhatikan. Cara penjernihan air perlu diketahui karena semakin banyak sumber air yang tercemar limbah rumah tangga maupun limbah industri. Cara penyaringan air baik secara alami maupun kimiawi akan diuraikan dalam bab ini. Cara-cara yang disajikan dapat digunakan di desa karena bahan dan alatnya mudah didapat.

Saringan air sederhana/tradisional merupakan modifikasi dari saringan pasir arang dan saringan pasir lambat. Pada praktikum menggunakan botol 1 saringan tradisional ini menggunakan pasir, kerikil, batu dan arang juga ditambah satu buah lapisan injuk / ijuk yang berasal dari sabut kelapa. Pada botol ke 2  menggunakan batu, krikil, pecahan genting, ijuk, dan pasir.

 

Hasil dari percobaan ini pada air keruh yang digunakan sebelum disaring diukur menggunakan sekides hasilnya kekeruhannya adalah  4 cm. Setelah dilakukan penyaringan sebanyak 2 x didapatkan hasil kejernihan air yaitu: pada botol 1 adalah 7 cm dan botol 2 adalah 10 cm. Air hasil penyaringan ini jauh lebih jernih dibandingkan dengan air yang sebelumnya sehingga sudah bisa dianggap layak untuk digunakan dalam kebutuhan rumah tangga.

  1. E.     DISKUSI
    1. Jelaskam ciri-ciri dari air bersih dan memiliki kualitas baik atau layak konsumsi?
    2. Jelaskan dasar-dasar pengujian yang perlu dilakukan dalm menentukan apakah layak konsumsi?
    3. Uraikan siklus dari air dan manfaat dalam kehidupan?

JAWAB:

1. –  Air harus jernih/tidak keruh

- Tidak bewarna

- Rasanya tawar

- Tidak bau

- Derajat keasaman pHnya netral

- Tidak mengandung zat kimia beracun

- Tidak mengandung bakteri patogen seperti Escherecia coli

- Kesadahanya rendah

2. Langkah-langkah berikut ini dapat dilakukan untuk menguji kualitas air dalam skala rumah tangga:

A. Uji Fisika, secara fisik, kualitas air dapat diketahui dengan menggunakan indra penglihatan, perasa, penciuman dan pengecap, misalnya untuk mengetahui kekeruhan, warna, suhu, bau dan rasa. Perlu diperhatikan, saat menguji bau dan rasa perlu berhati-hati karena dikhawatirkan air mengandung aroma dan rasa yang mengandung racun.

B. Uji kimia sederhana, da- pat dilakukan dengan membuat larutan teh menggunakan air minum yang biasa kita konsumsi di rumah. Caranya dengan menyiapkan tiga buah wadah, dimana wadah pertama berisi larutan air teh, wadah kedua berisi air minum yang kita konsumsi di rumah dan wadah ketiga berisi campuran air teh dan air minum. Lalu wadah yang berisi campuran air minum dan air teh dibiarkan selama satu malam dalam keadaan terbuka.

Apabila pada wadah ketiga yang berisi campuran air teh dan air minum yang kita konsumsi di rumah terdapat perubahan warna ( warnanya lebih gelap dari air teh yang berada di wadah pertama), kemudian terdapat lendir serta lapisan minyak pada permukaan air, maka dapat disimpulkan air minum yang ada di rumah tidak layak konsumsi dan tidak da-pat dijadikan bahan baku air minum.

C.Uji biologi sederhana, dapat dilakukan dengan memasukkan air yang biasa kita konsumsi di rumah ke dalam sebuah wadah transparan atau bening sehingga dapat tembus cahaya. Kemudian tutup rapat wadah tersebut dan biarkan di tempat terbuka yang terkena cahaya matahari selama lima hari. Lalu setelah lima hari amati wadah tersebut. Jika terjadi perubahan warna dan gumpalan putih seperti lendir maka air minum tersebut tidak layak konsumsi dan tidak dapat dijadikan bahan baku air minum.

3.

 

Manfaat air dalam kehidupan:

-          Untuk memasak, mencuci, mandi.

-          Untuk mengairi area pertanian

-          Untuk air minum

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    KESIMPULAN
    1. Air hasil penyaringan cukup besih untuk keperluan rumah tangga ataupun dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Penyaringan atau filtrasi terhadap air dapat dilakukan melalui proses alami maupun buatan. Tujuannya adalah untuk memurnikannya.
    3. Saringan air sederhana/tradisional merupakan modifikasi dari saringan pasir arang dan saringan pasir lambat
    4. Tingkat kekeruhan air akan sangat bervariasi sesuai sengan struktur atau kandungan mineral dalam tanah dan pada masing-masing lokasi
    5. Pemeliharaan memerlukan ketelitian dan cukup memakan waktu seperti: (a) botol pengendapan dan botol penyaring harus dibersihkan, jika aliran air yang keluar kurang lancar. Ijuk, kerikil, potongan bata, pasir dicuci bersih, kemudian dijemur sampai kering. (b) Arang tempurung biasanya paling lama 3 bulan sekali harus diganti dengan yang baru. (c) Tidak bisa digunakan untuk menyaring air yang mengandung bahanbahan kimia seperti air buangan dari pabrik, karena cara ini hanya untuk menyaring air keruh, tapi bukan menyaring air yang mengandung zat kimia tertentu.

 

  1. B.     SARAN
    1. Ketelitian dalam pemeliharaan alat serta bahan penyaringan harus benar-benar diperhatikan
    2. Sebaiknya air hasil penyaringan jika akan digunakan untuk keperluan air minum harus diteliti lebih lanjut lagi apakah ada bakteri-bakteri yang berbahaya yang terkandung didalam air tersebut.
    3. Jika air hasil penyaringan ini layak untuk di minum, harus dimasak terlebih dahulu sampai mendidih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Astuti, Intan mega piji. 2012. Filtrasi Air (Penjernihan Air). http://intanmegapujiastuti.wordpress.com/2012/01/19/filtrasi-air-penjernihan-air/ (diakses pada tanggal 11 januari 2013, pada hari jumat, pukul 11:46 WIB)

Atmaja, Susilo Tri. Pengertian Filtrasi (Penyaringan). 2011. http://chemistry35.blogspot.com/2011/07/pengertian-filtrasi-penyaringan.html. (diakses pada tanggal 11 Januari 2013, Pukul 10:30 WIB)

Meliana, Ariyanto. 2010. Pengertian Dan Tujuan Metoda Pemisahan Campuran. Http://Dasarkimia.Blogspot.Com/2010/11/Pengertian-Dan-Tujuan-Metoda-Pemisahan.Html. (Diakses Pada Tanggal 11 Januari 2013, Hari Jumat, Pukul: 12:28 WIB)

Shella. 2012. Melakukan Penyaringan Air Sederhana. Http://Shellaaaach.Wordpress.Com/2012/08/31/Melakukan-Penyaringan-Air-Sederhana/ (Diakses Pada Tanggal 11 Januari 2012, Hari Jumat, Pukul 11:41 Wib)

Widianingsih, Sri. 2009. Berbagai Teknik Penyaringan Sederhana. http://saringan-air-sederhana.blogspot.com/ (diakses tanggal 11 Januari 2013, hari jumat pukul 11:18 WIB)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s